Dharma Wacana ““ETIKA DALAM MASA BRAHMACARI MENURUT EPOS MAHABRATA DI KONTEKS KEKINIAN””

DHARMA WACANA

“ETIKA DALAM MASA BRAHMACARI MENURUT EPOS MAHABRATA DI KONTEKS KEKINIAN”

Oleh : I Putu Mardika

Om Swastyastu

Om anobadrah kartawo yantu wiswatah

Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru

Yang terhormat Bapak Kepala SMKN 3 Singaraja, yang saya hormati pula Bapak dan Ibu guru  dan siswa-siswi SMKN 3 Singaraja yang saya cintai beserta teman-teman mahasiswa yang PPL baik Undiksha maupun STKIP.

Puja dan puji syukur saya haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kerta wara nugraha beliau kita bisa berkumpul bersama di Padma Sari parahyangan SMKN 3 Singaraja dalam persembahyangan hari Purnama Sasih Kasanga yang jatuh pada hari ini, Kamis 17 Februari 2011 dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang suci ini saya selaku perwakilan mahasiswa PPL dari STKIP Agama Hindu Singaraja, diberikan kesempatan oleh guru pamong Agama Hindu SMKN 3 Singaraja untuk memberikan sedikit tentang “Etika dalam Masa Brahmacari Menurut Epos Mahabrata di Konteks Kekinian”. Saya memilih tertarik untuk memilih materi tersebut Karena masalah itu relevan terhadap adik-adik sekalian selaku siswa-siswi yang melaksanakan masa Brahmacari.

Bapak/Ibu guru dan Adik-adik siswa-siswi yang saya banggakan,

Telah kita ketahui bersama bahwa Agama Hindu memiliki Tri Kerangka Dasar yang terdiri dari 1)Tatwa yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama. 2)Susila Adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama.  3)Upacara adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya : Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya. Dan ketiganya ini mesti dimiliki dan dilaksanakan oleh umat hindu semuanya. Demikian eratnya kaitan antra ketiga dasar ini, dapat kita umpamakan seperti sebuah telur yang terdiri dari : kuning telur dan sarinya adalah tatwa, putih telur adalah susila, dan kulit telur adalah upacara. Telur itu sempurna jika ketiga bagiannya sempurna dan dipanaskan dengan tepat dan baik oleh sang induk ayam, maka akan menetaslah telur itu atau lahirlah anak ayam sebagai tujuan akhir dari diciptakannya sebuah telur.

Sedangkan dalam Agama Hindu kita mengenal tentang konsep Catur Asrama yang merupakan empat jenjang yang harus dilaksanakan sebagai sebuah swdharma dalam menjalani kehidupan sebagai manusia. Jenjang pertama adalah Brahmacari yaitu masa menuntut ilmu, jenjang yang kedua yaitu Grehasta artinya masa membina rumah tangga, jenjang yang ketiga adalah Wanaprastha artinya masa mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/ moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari dan jenjang yang terakhir yaitu Bhiksuka artinya melepaskan sepenuhnya pada kenikmatan duniawi dan bebas dari rasa suka dan tidak suka, keinginan, keakuan,nafsu ,kemarahan, kesombongan dan ketamakan.

Umat sedharma yang saya cintai,

Salah satu jenjang dari Catur  Asrama yang pertama dan sedang adik-adik jalani sebagai siswa-siswi khususnya di SMKN 3 Singaraja adalah masa Brahmacari. Brahmacari terdiri dari dua kata yaitu Brahma yang berarti ilmu pengetahuan dan cari yang berarti tingkah laku dalam mecari dan menuntut ilmu pengetahuan. Brahmacari berarti tingkatan hidup bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu pengetahuan. Kehidupan para pelajar di mulai dengan upacara Upanayana, sebagai hari kelahirannya yang kedua. Mereka harus dibuat tabah dan sederhana dalam kebiasaan – kebiasaan mereka harus bangun pagi – pagi , mandi melakukan sandhya & java gayatri serta mempelajari kitab – kitab suci.

Dalam tahapan Brahmacarilah waktu yang benar-benar digunakan untuk mencari pengetahuan dan keterampilan, untuk meningkatkan kualitas diri. Konsep brahmacari merupakan konsep yang sangat ideal. Brahmacari adalah saat yang harus benar-benar kita manfaatkan sebelum kita menapaki tahapan berikutnya. Namun, walaupun konsepnya ideal, dalam pelaksanaan di lapangan, sepertinya tidak bisa berjalan dengan sempurna.  Contohnya: banyak anak muda sekarang yang harus menjalani kehidupan grahasta (berumah tangga) padahal masa brahmacari mereka masih berlangsung. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau ini terjadi? “Sistem dan lingkungan” jawabanya. Tak hanya itu, keluarga juga dianggap memiliki peran penting. Sering terjadi, keluarga yang orangtuanya sibuk, pendidikan anaknya menjadi telantar ditambah lagi pengaruh lingkungan yang kurang baik menyebabkan anak menjadi liar dan bebas. “Masa muda adalah masa belajar, masa mencari pengetahuan” Disiplin merupakan kata kunci yang juga harus ditekankan. Kalau sudah bisa mendisplinkan diri dalam memahami tahapan-tahapan kehidupan, tentu semua akan berjalan lancar. Selain itu, evaluasi juga perlu mendapat porsi. Dengan mendisiplinkan diri dan melakukan evaluasi, tentu konsep brahmacari yang ideal ini bisa terwujudkan.

Kalau diibaratkan, manusia sebagai ilalang. “Saat muda, kita ibarat daun ilalang yang tajam dan saat daun ilalang itu tua, dia dijadikan atap yang melindungi”. Ini berarti bahwa masa muda merupakan masa yang paling tepat untuk menuntut ilmu karena di umur ini tuntutan hidup kita masih ditanggung oleh keluarga jadi pergunakanlah kesempatan yang baik ini untuk belajar, jika dibandingkan dengan masa grahasta merupakan masa yang paling sulit. Alasannya adalah saat memasuki masa ini kita harus bisa membagi kapan mencari artha, kapan melepaskan artha tersebut dan kapan kita harus menyimpannya. Menyimpan dalam hal ini bukan semata dalam bentuk kongkret, bisa saja dalam bentuk abstrak. Menolong tetangga yang kesusahan bisa dikategorikan menyimpan artha dalam arti abstrak sebagai investasi di dunia sana.

Bapak-Ibu guru dan siswa-siswi yang berbahagia

Kita berbangga menjadi umat Hindu karena kita memiliki epos Ramayana dan Mahabarata yang sampai saat ini masih sangat relevan untuk kita jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Khususnya dalam epos Mahabarata kita bisa mencari nilai-nilai Pendidikan yang sarat dengan makna kejujuran.

Dalam Adi Parwa (Bagian pertama dari Cerita Mahabarata) dikisahkan bahwa Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar “Maharathi” atau “kesatria terkemuka”. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar. Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama “Brahmasirsa”. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa nilai pendidikan yang diterapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar. Murid – murid sekolah dan perguruan tinggi seharusnya menjalani suatu kehidupan yang murni , sederhana serta fokus pada mengejar ilmu pengetahuan stinggi-tingginya karena itulah sesungguhnya etika bagi seseorang yang melaksanakan Brahmacari secara sungguh-sungguh.

Bapak-Ibu serta adik-adik siswa siswi SMKN 3 Singaraja mungkin hanya itulah Dharma wacana yang bisa saya berikan pada kesempatan ini kurang lebihnya saya minta maaf atas kesalahan kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak/Ibu dan adik siswa-siswi SMKN 3 singaraja, semoga ada manfaatnya untuk kita semua. Akhir kata saya tutup dengan Parama Santi..Om Santih…Santih…Santih Om.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s