Kakawin siwaratri Kalpa

MAKNA KEKAWIN  SIWARATRI   KALPA  DALAM PANDANGAN ESTETIKA KEHIDUPAN DI KONTEKS KEKINIAN

Oleh :

I Putu Mardika

Analog :

Mpu Tanakung berkata :wruh ngwang nispala ning mango

jenek alanglang kalangen ikang pasir wukir (KS,I:21)

“Aku tahu, percuma saja menikmati keindahan,jika hanya melanglang

buana lalu terpesona menikmati keindahan pemandangan pesisir gunung “

A.Pendahuluan.

Pada intinya kita hidup di dunia ini senantiasa dihadapkan pada masalah yang kita kenal dengan Rwa bhineda, dua yang paradok. Ada siang malam, terang gelap, pagi malam, hitam putih, baik buruk , dan masih banyak lagi. Dari keduanya tadi manusia dihadapkan  dilemma untuk memilah lalu  memilih. Salah pilah dan salah pilih berarti celaka. Oleh karena itu kita perlu mengadakan usaha sadar melalui olah piker dan olah rasa agar dapat memilah dan memilih  yang tepat.

Untuk itulah maka Hindu banyak mengandung symbol-simbol yang mampu memberikan makna yang mendalam kepada sebuah yang berhubungan dengan kode budaya. Salah satu cerita yang banyak mengandung makna filosofis adalah cerita Lubdhaka. Dalam kesempatan ini , pada hari yang sangat berbahagia ini akan kita kupas tentang pemaknaan Siwaratri itu.

B.Pembahasan .

1  Makna Ceritra Lubdhaka.

Mpu Tanakung adalah seorang Kawi Wiku yang mumpuni dalam bidang sastra, beliau berkata : “wruh ngwang nisphala ning mango jenek alanglang I kalangen ikang pasir wukir (KS,I:21) artinya,” aku tahu, percuma saja menikmati keindahan, jika hanya melanglang buana lalu terpesona menikmati keindahan pemandangan pasir-gunung “ analog dengan wacana itu Mpu tanakung menyapa kita bahwa, “ Percuma saja kita menikmati kekawin Siwaratri, jika hanya mempesona menikmati lapis-lapis kulitnya saja berupa wirama, jalan ceritra, dan permainan bunyi, permainan kata-kata yang membangun kekawin itu tanpa berusaha menyimak makna simbolik yang terkandung di dalamnya.

Ceritra Lubdhaka dalam Siwaratri.

Seorang pemburu bernama Lubdhaka, setiap hari mengelilingi hutan dan gunung. Hidupnya tidak pernah susah. Ia selalu bersenang-senang dengan anak dan istrinya. Sejak kecil ia tidak pernah berbuat kebenaran, kebajikan, perbuatannya hanya membunuh binatang seperti rusa, badak dan gajah. Itulah yang dilakukan setiap hari sebagai satu-satunya mata pencaharian yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pada hari keempat belas bulan ketujuh (panglong ping pat belas ke pitu), Lubdhaka berburu seorang diri kedalam hutan memakai bajuhitam kebiruan . Perjalannya ke dalam hutan menuju timur laut, ketika itu hujan gerimis, Ia melewati Pura besar (dharma agung) yang keadaanya sudah rusak, namun dewanya tetap kokoh berstahana di dalam relung pelangkiran. Oleh karena kekuatan keutamaan dari malam Siwa (siwaratri), keadaan hutan menjadi sepi. Keadaan ini membuat Lubdhaka berjalan sampai jauh ketengah hutan.

Karena merasa penasaran, Lubdhaka terus menelusuri hutan selama satu hari berputar-putar mengelilingi lereng gunung. Setelah sore ia sampai di sebuah ranu besar yang didalamnya terdapat Siwalinggga (tidak ada yang membuat ), Perjalanan berputar-putar membuat Lubdhaka lesu, payah,haus,lapar. Karena itu, ia beristirahat dan minum air serta mencuci muka sambil menunggu binatang yang mungkin datang minum air.

Namun harapan itu sia-sia, karena sampai malam tidak ada binatang yang datang minum air. Akhirnya ia memutuskan untuk menginap di seputar ranu itu. Untuk menghindari bahaya (dari sergapan binatang), ia memanjat pohon bilva dan menaungi ranu dan membawa busur serta anak panahnya. Setelah larut malam ia tidak bisa menahan kantuknya. Agar tidak tertidur, ia memetik daun pohon maja (bila) itu satu persatu sampai fajar. Tanpa disengaja daun-daun yang dipetiknya jatuh di dalam ranu dan semua kandas mengenai Siwalingga. Dewa Siva yang sedang beryoga disitu sangat senang memperhatikan ketekunan lubdhaka menyertai yoganya.

Keesokan harinya, setelah pagi, keadaan di sekitar , mulai terang disinari matahari. Ia berkemas-kemas pulang, setibanya dirumah dijemput oleh istri dan anak-anaknya dengan rasa gembira. Setelah diceritrakan perjalanannya tidak mendapat buruan, suasana berubah menjadi sedih karena mereka sedang lapar. Mungkin istri dan Lubdhaka juga tidak tidur semalam karena menanti kedatangan ayah atau suami yang tidak kunjung pulang.

Beberapa tahun kemudian, Lubdhaka jatuh sakit dan kematian tidak dapat dielakan. Atmanya melayang-layang di angkasa. Dalam keadaan demikian, Dewa Siva segera memerintahkan abdinya (para gana) untuk menjemputnya agar dibawa ke Siwaloka. Tindakan itu dilakukan Dewa Siva karena beliau masih ingat dengan perbuatan lubdhaka yang sangat terpuji, yaitu melakukan brata  Siwaratri pada panglong ping pat belas sasih kepitu pada zaman kreta dahulu semasih hidupnya.

Walaupun hal itu tidak sengaja dilakukannya, karena brata itu yang utama, dapat membersihkan segala dosa. Berapapun banyaknya berbuat kejahatan akan dilebur oleh keutamaan brata itu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya Lubdhaka untuk menikmati kebahagiaan di Siwaloka.

Itulah ceritra Lubdhaka yang termuat dalam Siwatari Kalpa. Kita akan kupas satu persatu makna simbolik dari ceirta lubdhaka.

1.1. Hari Perayaan Siwaratri.

Siwaratri yang datang setahun sekali yaitu pada hari 14 paruh gelap malam mahapalguna (januari-Februari), sehari sebelum Tilem kapitu, menyediakan seperangkat pengetahuan, nilai, norma-norma, pesan, dan symbol.

Kata ratri berarti malam, Karena itu Siwaratri berarti malam siva. Siva berarti baik hati, suka memaafkan, memberikan harapan, Dengan demikian siwaratri adalah malam untuk melebur kegelapan hati menu jalan yang terang. Siwaratri jatuh setahun sekali pada purwaning tilem ke pitu (panglong ping 14 sasih kepitu). Menurut astronomi malam tersebut merupakan malam yang paling gelap dalam satu tahun, maka buana agung terdapat malam yang paling gelap, maka di buana alit pun ada. Kegelapan di buana alit dikenal dengan nama peteng pitu, yaitu mabuk karena rupawan (surupa), mabuk karena kekayaan (dana), mabuk karena kepandaian ( Guna), mabuk karena kebangsawanan (kulina), mabuk karena keremajaan (yohana), mabuk karena minuman keras(sura), dan mabuk karena kemenangan (kasuran).Kegelapan inilah terjadi karena kesimpang siuran dalam struktur alam pikiran. Kesimpang siuran ini terjadi karena pengaruh dasendriya, sehingga menghasilkan manusia yang mengumbar hawa nafsu.

1.2. Makna Kata Lubdaka.

Kata Lubdhaka (sansekerta) berarti pemburu . Secara umum pemburu adalah diartikan sebagai orang yang suka mengejar buruan yaitu binatang (sattwa). Kata Sattwa berasal dari kata sat yang artinya mulia sedangkan twa artinya sifat. Jadi sattwa adalah sifat inti atau hakekat. Dengan demikian Lubdhaka adalah orang yang selalu mengejar atau mencari inti hakekat yang mulia.

1.3. Tempat Tinggal Lubdhaka.

Lubdaka dikisahkan tinggal di puncak gunung yang indah . gunung didalam bahasa sansekerta disebut acala yang tidak bergerak. Bahkan dalam ceritra wrespati kalpa dikisahkan Betara siwa dipuja di puncak gunung kailasa. Jadi tempat tinggal Lubdhaka di puncak gunung dapat diartikan bahwa ia adalah orang yang taat dan tekun memuja siwa (Siwa Lingga) atau yang sering disebut seorang Yogi

1.4. Alat Perburuan dan binatang Buruan.

Alat bebrburu si Lubdhaka adalah panah, symbol dari manah / pikiran. Dengan senjata pikiran ia selalu berburu budhi sattwa. Agar ia mendapatkan budhi sattwam mesti ia mengendalikan indrianya ( melupakan bekal makanan)

Binatang yang diburu oleh Lubdhaka adalah, gajah, badak, babi hutan. Dalam bahasa sansekerta gajah berarti asti, simbolis dari astiti bhakti. Sedangkan badak sama dengan warak bermakna tujuan sedangkan babi hutan (waraha) mengandung makna wara nugraha.

Dengan demikian ketiga binatang buruan tersebut mengandung makna bahwa Lubdhaka dengan pikirannya yang dijiwai oleh budhi sattwam senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang didasari oleh astiti bhakti dengan tujuan mendapatkan wara nugraha dari Ida Hyang widhi wasa ( Siwa).

1.4 Berngkat berburu pada panglong ping 14.

Hari ke 14 paro terang di bulan magha ini Si Lubdaka tumben sial, tidak mendapat binatang. Ini adalah waktu kosmis yang tepat untuk melakukan laku spiritual. Bulan dikatakan memiliki 16 kala kekuatan duniawi ini simbolik dari 1 + 6 = 7, yaitu sapta timira. Pada hari ke 14 paro simbolik 1+4 = 5 melambangkan panca indra. Jadi pada pang long ping 14 terang ini telah kehilangan 14 kala’ dan saat itu hanya masih tinggal 2 kala yakni raga (ego) dan kama ( nafsu ). Jadi jika kedua kala tadi mampu kita kalahkan maka disana Siwa akan memberikan rahmatnya.

1.4. Pagi hari memakai pakaian hitam kebiruan.

Hitam adalah lambang keberanian, keperkasaan. Pagi hari disebut Brahman muhurta “ hari Brahman, waktu yang baik untuk melakukan olah spiritual atau memuja Tuhan.

1.5. Berjalan sendirian.

Pemberani. Hanya orang yang tidak mengenal atau mampu mengatasi rasa takut  yang berani sendirian masuk hutan lebat. Simbolik dari mengikuti jalan yang disebut nirwrwti marga : jalan spiritual bagi seorang pertapa atau jnanin. Dalam makna berangkat sendirian maka tidak ada teman bicara itu berarti mona brata “ tidak berbicara”.

1.6. Menuju arah timur laut.

Menuju kiblat suci merupakan sandi dari kiblat utara symbol Ratri “ malam, gelap, hitam,dengan kiblat timur symbol Siwa atau Iswara siang, putih, terang, Simbolik paham sakti dengan paham Siwa.

1.7. Selama perjalanan banyak menemukan tempat suci yang rusak .

Simbolik dari merosotnya situasi politik dan merosotnya kehidupan religius umat Hindu.

1.8. Tidak seekor binatangpun didapatkan.

Binatang symbol “ ego” sifat binatang itu tidak lagi ditemukan pada diri sang pertapa , artinya pertapa telah berhasil mengalahkan keakuannya dan rasa kepemilikannya.

1.9. Tidak terasa senjapun tiba.

Symbol dari daya konsentrasinya kuat. Vivekananda mengatakan bahwa, semakin banyak waktu yang terlewatkan tanpa kita perhatikan , semakin berhasil kita dalam konsentrasi. Ketika yang lampau dan sekarang berdiam menjadi satu berarti saat itulah pikiran memusat. Sandyakala adalah hari sandi antara terang dan gelap yang menyebabkan kenyataan menjadi tidak jelas. Oleh karena seorang pertapa harus lebih awas dengan meningkatkan spiritualnya.

1.10. Naik pohon bilwa yang tumbuh di pinggir danau, dan duduk dicampang

pohonya.Symbol dari meningkatnya kesadaran denagn jalan mediatasi untuk memurnikan pikiran agar daya budi terungkap. Pohon bilwa disimbolkan sebagai tulang punggung yang di dalamnya terdapat cakra-cakra , simpul-simpul energi spiritual yang satu dengan yang lainya saling berhubungan. Duduk di campang pohon melambangkan daya keseimbangan konsentrasi antara otak kiri dan kanan, yakni otak tengah. Naik keatas pohon melambangkan bangkitnya daya sakti yang disebut kundalini sang pertapa.

1.11. Ranu atau danau

Symbol Yoni lambang sakti atau Dewi, saktinya siwa adalah lambang kesuburan.

1.12. Di tengah danau ada Siwalingga nora ginawe.

Batu alami yang kebetulan ada ditengah danau . Lingga adalah symbol Siwa

1.13. Memetik daun bilwa.

Memetik ajaran Siwa. Kata Rwan atau ron, don, berarti daun dan dapat juga berarti tujuan. Jika dirangkai dengan kata maja atau bilwa maka melambangkan tujuan. Yakni mengembangkan kesadaran. Dengan demikian dapat diartikan dimana sang pertapa selalu memetik sari ajaran untuk mengembangkan kesadaran. Dalam hubungan jagrabrata olah kesadaran dengan mempelajari siwa tattwa ( ajaran hakekat ketuhanan) sampai akhirnya mencapai pencerahan rohani. Jadi Mpu tanakung disini menuliskan dengan simbolis yaitu olah budi dan rasa terpusat kepada Tuhan.Untuk itu disebutkan oleh Mpu tanakung ,mahaprabhawa nikanang brata panglimur kadusta kuhaka, setata turun mapunya yasa dharma len brata gatinya kasmala dahat. Artinya brata siwararti adalah mampu meruwat sifat dusta dan keji. Cara meruwat itu adalah dengan melakukan dyana (meditasi), menyanyikan syair pujian, merafal mantra,melakukan japa ( menyebut nama Tuhan berkali-kali),

1.14. Tiba dipondok sore hari, menjelang petang (hari tilem).

Kenyataan umum setiap orang berburu pasti akan kembali pulang. Simbolnya kembali dari perjalanan suci yang dilakuakan selama dua hari satu malam : 36 jam.

1.15. Tiba di pondok Lubdaka baru makan.

Perjalanan berburu Lubdaka tidak membawa bekal, karena memang tidak rencana menginap. Simbol dari melakuakan upawasa, puasa tidak amkan, minum selama 36 jam, yakni dari pagi hari pada hari ke 14 paro terang, purwani tilem sampai besok senja kala hari ke 15 tilem

C. Kesimpulan.

Itulah critera  tentang Lubdaka dimana ceritra itu penuh makna dan arti. Seperti yang dikatakan Mpu Tanakung bahwa kita selayaknya dalam hidup ini selalu amuter tutur penehayu, yang artinya berusaha memutar kesadaran dengan cara yang tepat. Salah satunya adalah menjalankan brata siwaratri ini.

Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa Lubdaka adalah manusia biasa yang penuh dosa papa, mampu dengan secara kebetulan menjalankan ajaran / memuja Siwa di hari yang ratri, yaitu panglong ping 14 yang mana itu merupakan hari pemujaan Siwa, maka segala dosa yang pernah diperbuat mendapat pengampunan. Artinya, dosa –dosanya itu menjadi berkurang karena perbuatan yang baik, disaat yang tepat.

Ada sebuah renungan yang patut kita hayati bersama di malam Siwaratri :

“ Asucir wa sucir wapi,

sarwa kama gato’ pi wa

Cintayed Dewam Isanam

sabahyabhyantarah sucih

Siwastawa mantra)

Orang, apakah ia suci atau tidak suci,

Diliputi oleh segala nafsu sekalipun,

bila ia tekun bhakti kepada Dewa Siwa.

Ia akan menjadi suci lahir bhatin.

Api cet su-duracaro

Bhajate mam Anaya-bhak,

Sadhur ewa sa mantawyah

Samyag wyawasito hi sah

(bhagavadgita, IX:30)

Bahkan orang yang terjahat sekalipun,

Bila ia memusatkan pikirannya memuja aku

Ia mesti dipandang sebagai orang baik,

Karena bertindak menuju yang benar.

MAKNA SPIRITUAL  DAUN BILVA.

Tanaman Bilva (ficus religious) adalah tanaman suci, mempunyai akar keatas (spirit) dan akar kebawah (duniawi), merupakan tanaman aswatha (bhagavadgita), dimana setiap lembarnya merupakan symbol-simbol sloka-sloka suci weda (suryadharma dkk, 2004).

Tanaman bilva menyimpan zat asam (oksigen / neeter, dimana di dalam atharwa veda VI.95.1.disebutkan bahwa :

Asvattho devasadanah.

Artinya.

Tanaman bilva (ficus religiousa linn) dinamakan tempat kediamannya para dewa sebab ia selalu memancarkan oksigen (nettar).

Kenudian dipertegas lagi dalam Sama veda  1.824 bahwa,

Tam it samanam vamna caviruddho antarvantis ca sarvate ca vivaha.

Artinya.

Tanam-tanaman dan tumbuhhan memancarkan udara vital yang dinamakan samana (oksigen) secara teratur.

Di Bali daun bilva dipergunakan sebagai sarana pemujaan yang paling utama pada hari siwaratri, yang tertuang dalam Siwaratri klapa. ( Titib, 2001, Agastia, 1997).

Di dalam ceritra Lubdaka dikatakan, naik ketas pohon bilva ( irika tikang nisada memenek pang ing maja ) . Kata bila dapat berubah menjadi wira yang berarti perwira, teguh hati, tekun “. Dengan analisis itu maka pohon bilva mengandung simbolik yang menggambarkan bahwa ia adalah bertumpu pada atau ketekunan (Rai Sudharta, 1994).

Lubdaka adalah seorang pemburu, kerjaanya adalah membunuh yang disebut himsa karma. Sedangkan dalam ajaran Hindu dilarang membunuh, menyakiti yang disebut ahimsa karma.  Sebenarnya ceritra lubdaka dibangun berdasarkan faham dwaita “dualis”. Dimana menurut Bethara Siwa , Lubdaka adalah orang yang telah melaksanakan dharma yang utama, karena setia menjalankan brata siwaratri yakni, upawasa, monabrata dan jagra. Ini adalah pemujaan kepada Siwa dengan tepat. Sedangkan menurut Bethara Yama, Sang Giriputri belum tahu tentang brata Siwaratri ini penuh berkah. Namun Betara Yama menilai Lubdaka adalah si pembunuh maka ia harus mendapat siksa neraka.

Penilaian keduanya ini berdasarkan wisaya karma, yaitu perbuatan yang berhubungan dengan panca indra atau perbuatan mengikat, ini yang menurut betara yama. Sedangkan menurut Sreyo karma, perbuatan yang membebaskan,walaupun perbuatan itu dilakukan dan berhubungan dengan panca indra, bila itu dilakukan dengan tidak mengharapkan hasil maka ia akan menang atas perasaan keakuan, kepemilikan, ketamakan hawa nafsu. Maka ia akan menjadi suci dan dikasihi Tuhan. ( narayana, 1991-2) Ini adalah penilaian Betara Siwa.

Selanjutnya dikatakan Lubdaka memetik daun bilva menjatuhkan kedalam danau. Artinya dia takut terjatuh maka tidak boleh mengantuk. Simbolis disini dia takut jatuh, yaitu mengalami reinkarnasi dimana reinkarnasi itu adalah kehidupan yang terjadi dari kejatuhan dari sorga atau neraka. Untuk itulah agar tidak jatuh manusia mestinya berintrospeksi diri. Ibarat bayangan bulan di tempayan setiap bayangan itu akan menampakan diri kita secara keseluruhan. Maka ranu, kolam yang ada dibawah dengan lingga disimbolkan cermin untuk melihat bayangan kita sedangkan lingga adalah atma kita .

Memetik-metik daun bilva dalam pustaka siwaratribrata ( sudarta, 1994) sebanyak 108 adalah simbolik dari menghitung kesalahan yang telah diperbuat. angka 108 dijumlahkan menjadi 9 yakni angka tertinggi, simbolik dari Lubdaka melakukan perbuatan dengan keteguhan hati, ketekunan memuja siwa adalah mencapai puncaknya ( rai sudharta, 1994).

Atas dasar analisis itulah maka cerita Lubdaka adalah simbolik seorang yogi dalam menekuni Yoga. Dengan brata siwaratri di malam ke ping 14 brata itu mencapai puncaknya. Seperti disebutkan dalam Wrhaspati kalpa, bahwa “ bagi mereka yang telah mencapai Samadhi, segala papa nerakanya terbakar, dibakar oleh panasnya api gaib (bhanimaya) sebagai akibat dari matangnya yoga. Oleh sebab itu papa neraka adalah akibat dari pahala atau dosa, maka hal itu juga berarti terleburnya dosa ayang telah diperbuat.

Jika dalam hidup tidak pernah melakukan brata siwaratri maka dalam hidup ini tidak akan punya arti. Seperti dikatakan dalam Arjuna Wiwaha disebutkan bahwa :

“ Seseorang yang tidak pernah melakukan brata, tapa, yoga semadi akan berharap, memaksa supaya memperoleh kesukaan dari Hyang Widhi akan dibalikan halnya dan ditimpa kesedihan, disakiti oleh rajah dan tamah.”

Kesimpulan.

Tanaman bilva adalah tanaman suci yang mempunyai akar keatas (spirit) dan akar kebawah (duniawai) merupakan tanaman aswatha (bhagavadgita), dimana setiap helainya adalah symbol-simbol sloka. Tanaman ini adalah tempat kediaman Dewa, sebab itu ia memancarkan sinar / oksigen.

Daun bilva adalah merupakan sarana aturan yang paling mulia dalam siwaratri kalpa. Pohon bilva dinaiki dan memetik daunya sebanyak 108 adalah simbolik dari seorang yogi yang tekun memuja siwa sebagai manifestasi yang paling utama, walau bhaktinya tidak sengaja..

SIWARATRI DALAM KONSEP KEKINIAN

Hari Siwaratri yang jatuh pada Purwaning Tilem Kapitu, Sabtu 3 Januari 2011, merupakan momen yang sangat tepat untuk merenung dan mengendalikan diri. Pada hari suci penuh pengampunan itu, umat Hindu diajak untuk bisa mengekang hawa nafsu dan keinginan yang bersifat duniawi. Nilai-nilai apa yang bisa dipetik dari malam Siwaratri dalam konteks kekinian? Kemudian, apakah figur si pemburu Lubdaka yang diceritakan pada malam Siwaratri masih relevan dengan kehidupan sekarang.

Hidup manusia sebenarnya dibelenggu oleh bhuta kala. Dalam usaha melepas belenggu bhuta kala itu, manusia hendaknya berusaha mendapatkan keseimbangan jasmani dan rohani yang bisa dicapai secara perlahan-lahan dan bertahap. Tidak dimungkiri banyak hambatan yang menghadang ketika manusia ingin mencapai keseimbangan itu. Hambatan itu datangnya tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam diri manusia itu sendiri perhatikan pupuh dibawah ini.

Ragadi musuh maparo,

Ring hati ya tungguwannya tan madoh ring dewek

Hawa nafsu, ego adalah musuh yang sangat dekat

Didalam hati letaknya tak jauh dari dalam diri kita sendiri

Siwaratri pada hakikatnya merupakan sebuah ajaran untuk membangkitkan perjuangan umat Hindu untuk selalu sadar akan dirinya yang selalu diancam oleh berbagai hambatan. Upacara Siwaratri bertujuan memberikan pengetahuan kepada manusia agar menyadari bahwa dalam dirinya selalu ada pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, sebaik-baiknya manusia, pasti pernah berbuat dosa selama hidupnya. Demikian pula sejelek-jeleknya manusia, pasti pernah berbuat baik selama hidupnya. Hanya saja sejauh mana diri kita mampu untuk mengambil hikmah dari voyeges ini.

Menyadari hal itu, Siwaratri dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada setiap umat Hindu untuk selalu sadar dan berusaha semaksimal mungkin menghindari perbuatan dosa dan selalu berikhtiar untuk memperbanyak perbuatan dharma. Meskipun manusia sulit menghindari perbuatan dosa, bagaimana pun besarnya perbuatan dosa yang telah diperbuatnya, tidak tertutup jalan untuk menuju dharma. Dalam artian jangan ada kalimat kepalang basah.

Siwaratri memotivasi manusia untuk tidak berputus asa kembali ke jalan dharma. Pintu dharma selalu terbuka lebar bagi orang yang sadar akan segala perbuatan dosanya. Cerita Lubdaka, si pemburu yang pekerjaan sehari-harinya berburu binatang, sebagai salah satu contoh. Tetapi, masih relevankah figur Lubdaka yang diceritakan pada malam Siwaratri dengan kehidupan sekarang

Dari kalangan para peminat spiritual, cerita Lubdaka itu diterjemahkan sebagai berikut : Jika seseorang sudah mampu membunuh sifat kebinatangannya, maka timbulah rasa ingin dekat dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Rasa keinginan atau hasrat (kerinduan) itu diwujudkan dengan berbagai cara (berjapam/mengulang-ngulang nama suci Tuhan), beryajna dan sebagainya.

Banyak kalangan yang kurang setuju, jika malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.

Umumnya Siwaratri dilaksanakan dengan laku brata : Mona Brata (pengendalian dalam kata-kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan kesalah-pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, akhirnya menyebabkan orang menjadi tersinggung. Karena dalam kasus ini melakukan tapa mona-brata, justru malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel dan sakti hati lantaran mereka tidak tau kita lagi monobrata. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh dari keramaian. Nah itu pun jaman dulu kan begitu, nah sebanarnya kalau kita ambil inti sari dari Monobrata, bagaimana kita meminimalisasi ucapan yang negatif  kepada orang lain, kurangi berbicara, perbanyak Asmaranam menyebutkan Nama-nama Hyang widhi ( Om Na, Ma, Ci, Wa, Ya ) dsb.

Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa atau tidak makan dan minum semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun tidak apa-apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya. Konsep kekinian makan jangan sampai berlebihan, sedangkan disatu sisi banyak sekali kita melihat saudara kita barangkali bisa makan nasi satu kali sudah angayubagia, nah kalau demikian bagaimana kita melakukan yadnya kita dengan menyisihkan makan yang berlebihan itu kita sisihkan yadnyakan kepada saudara kita yang sangat membutuhkannya, atau dananya kita jadikan dana pendidikan.

Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting adalah begadang demi dia (Siwa). Bukan begadang main gaple atau nonton TV. Tetapi konsep kekinian kita pergunakan berdiskusi, belajar tentang Tatwa, tentang tutur-tutur pinehayuan lan ke ahdiatmikaan, atau barangkali bedah Bhagawadgita atau Manawa dharmasastra, Sarasamuscaya, kekidung lan kekwain. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling menungjungi kerumah sahabat, handai toland sambil bermaaf-maafan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan dari kelemahan sifat-sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan, karena dibelengu oleh ahamkara nafsu-nafsu indrianya/raganya, serta kegelapan yang tak mampu untuk mengintrospeksi dirinya, sehingga kabut gelap yang selalu menyelimutinya. Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri pada Tilem Kepitu yaitu sehari menjelang Tilem Kepitu. Yang tujuannya semata-mata untuk mengurangi kepapaan dari nafsu-nafsu indria yang dimiliki oleh umat manusia. Terutama sekali yang berupa Peteng Pitu (7/tujuh) kegelapan yg disebut dgn “Sapta Timira” (tujuh macam kemabukan). Diantaranya adalah, Surupa (mabuk karena rupawan/rupa tampan atau cantik), Dhana (mabuk karena kekayaan), Guna (mabuk karena kepandaian), Kasuran (mabuk karena kemegahan), kulina (mabuk karena keturunan bangsawan), Yowana (mabuk karena keremajaan), Sura (mabuk karena minuman keras).

Ternyata bukan minuman keras saja yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk, melainkan juga ke enam keberuntungan itu. Jika tidak hati-hati membawa dan menjaga keberuntungan itu, justru membuat seseorang menjadi sombong dan terjerumuslah dia kedalam kegelapan. Ingat penyakit orang gantengatau cantik  kecendrungannya menjadi Play Boy atau Play Girl, penyakit orang kaya  adalah kikir punya makanan lebih baik busuk daripada diberikan kpda orang lain, meskipun sangat dibutuhkannya. Penyakit orang Dharmawan adalah suka mengungkit ungkit pemberian. Penyakit orang banyak omong  adalah Gosip dan terkadang berbohong, kalau tidak begitu tidak asik.

Makna hari suci Siwaratri adalah untuk menyadari bahwa seseorang berada dalam pengaruh kegelapan. Kegelapan itulah yang harus diterangi, baik jiwa, pikiran maupun badan jasmaninya. Kegelapan itu harus disingkirkan dengan ilmu pengetahuan rohani. Yang paling penting sekali adalah berkat dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan, ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman. Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau (Sang Hyang Sada Siwa) menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti itu.

Itulah keutamaan Hyang Siwa, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih. Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri, pasrah total kehadapan-Nya. Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka lebar-lebar.

Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa” buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ; upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan-Nya maka karmawasananya akan selalu diperhitungkan oleh sang Surat-atma, kurangi dosa, perbanyaklah bertobat. Rsi Empu Tanakung juga mengisyaratkan bahwa brata Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri bisa dilaksanakan dimana saja (di rumah, di Pura, di tempat sunyi, bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara). Justru disinilah mungkin ( di Lemaga Pemasyarakatan) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.

Niyasa yang terungkap dalam Lubdaka Kalpa adalah Tilem ke pitu adalah malam yang tergelap dari malam malam lainnya, karena tiada yang lebih gelap dari “Sapta TimiraPeteng pitu” Jagra artinya mengurangi durasi tidur dengan jalan memperbanyak improvisasi diri dengan memplejari ilmu ilmu keagamaan yang kita yakini “Hindu”. Monabrata artinya mengurangi pembicaraan yang tidak baik, mempitnah, menipu, gosif, serta berbohong, perbanyak dengan asmaranam Melakukan japa mala. Upawasa mengurangi makan yang berlebihan, serta meyadnyakan dananya untuk disumbangkan kepada oran orang yang jauh lebih papa dari kita, baik itu berupa makanan, maupun berbentuk dana-dana yang lainya seperti Rumah- sakit, sekolah, serta buku buku agama. Pemburu Satwa : Mencari tatwa, dengan membunuh sifat himsa karma ( kebinatangannya, dengan meningkatkan sifat sifat satwan dlm triguna sakti ). Naik Kayu dimalam hari : Munggah kayun dengan statement menghilangkan kegelapan, mulai sejak Siwa linggam dimalam hari, berkomitmen untuk selanjutnya harus berubah, karena hari esok harus lebih baik dari yang sekarang.

Daftar Pustaka.

Agastia, Ida Bagus gede, 1982. Kekawin Siwaratri Kalpa. Denpasar : Wyasa Sangraha

———–, 1994. Kesusastraan Hindu Indonesia ( Sebuah pengantar)

Denpasar : Yayasan Dharma Sastra.

———–, 1997,Memahami Makna Siwaratri. Denpasar. Yayasan Dharma  Sastra.

————, 2001. Siwaratri Kalpa Karya Mpu Tanakung. Denpasar : Yayasan Dharma

Sastra.

Arsana , I Gusti Ketut Gede, dkk, 1985. Fungsi Upacara Siwaratri di Bali.Jogyakarta :

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Debroy, Bibek 2000. Padma Purana. Surabaya : Paramita.

Jendra, I Wayan 2006,Intisari Upanisad. Denpasar : Panakom.

Kusuma Ida Bagus Wijaya. 2004. Implementasi Ceritra Lubdaka Dalam Pelaksanaan

Brata Siwaratri. Tesis. Denpasar Program Magister Ilmu Agama Dan Kebudayaan.

Suamba, I.B.P.1999 Siwa Sahasra – Nama ( Seribu Nama Siwa) Dalam Siwa Purana.

Denpasar : Yayasan Dharma Sastra.

Warna, I Wayan dkk.1994 Siwaratrikalpa. Denpasar Dinas Pendidikan Propinsi Bali

Yasa ,I Wayan Suka dkk 2007 Siwaratri Mulat Sarira Memburu Rahmat Siwa.

Makalah, Denpasar : Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.