Nitisastra

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin di dalam berkomunikasi dan menggerakan anggotanya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati. Dari pengertian ini ada tiga unsur dalam kepemimpinan yaitu (1) adanya kemampuan seorang untuk mempengaruhi orang lain; (2) adanya proses komunikasi tertentu dan 3) adanya tujuan-tujuan kelompok yang akan dicapai secara bersama-sama

Pemimpin adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatu organisasi atau Negara. Baik dalam politik pemerintahan, dunia pendidikan, Religi, sosial maupun dunia bisnis, dll. Kualitas pemimpin sangat berpengaruh terhadap keberhasilan organisasi. Sebab pemimpin yang sukses itu mampu mengelola organisasi, mampu mengantisifasi perubahan yang tiba-tiba, dapat mengoreksi kelemahan dan ringkasnya pemimpin mempunyai kesempatan paling banyak untuk merubah “batu menjadi permata” atau sebaliknya merubah “istana menjadi abu” bila ia salah langkah atau tidak cakap. Oleh karena itu pemimpin merupakan kunci sukses bagi keberhasilan organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya sehingga bisa mewujudkan Dharma Sidhiartha.

Pada dasarnya atau konsekwensinya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu perkumpulan yakni sebagai pemimpin atau sebagai yang dipimpin, yang lazim disebut dengan anggota. Sebagai anggota yang dipimpin kita harus memiliki loyalitas, patuh dan taat pada perintah atasan sebagai pemimpin dan rela berkorban serta bekerja keras untuk mendukung atasan dalam pencapaian tujuan, yang dalam ajaran agama kita disebut “Satya Bela Bhakti Prabhu” Sedangkan sebagai pemimpin harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memimpin serta dapat diterima oleh yang dipimpin ataupun atasannya. Kemampuan disini dalam arti mampu memimpin, mampu mengorbankan diri demi tujuan yang ingin dicapai, baik korban waktu, tenaga, materi dan lain-lain serta dapat diterima dalam arti dapat dipercaya oleh anggota.
Karena itu untuk menjadi seorang pemimpin, sudah seharusnyalah kita mampu untuk berbuat dan memiliki kriteria atau sifat-sifat seorang pemimpin seperti harus jujur, bersimpatik, ulet, bijaksana, pandai, cerdas, berwibawa, dan sebagainya. Apalagi menjadi pemimpin di Pulau Bali yang begitu banyak memiliki nilai-nilai yang adiluhung serta budaya yang diakui dunia internasional sehingga membutuhkan usaha yang ekstra bagi seorang pemimpin untuk mewujudkan Bali yang ajeg, berbudaya, santun, religius dan damai. Selain itu seorang pemimpin hendaknya memahami dan bisa mengamalkan ajaran “ASTA BRATA”. Asta berarti delapan dan Brata dimaksudkan sebagai sifat mulia dari alam semesta yang patut dan wajib dijadikan pedoman bagi seorang pemimpin khususnya di Bali yang perlu dilindungi dari berbagai aspek.

Diatas pundak seorang pemimpin terletak tanggung jawab yang berat. Ditangan pemimpin tergenggam nasib segenap rakyat atau kelompok yang dipimpinnya. Nasehat Rama kepada Wibhisana dalam Kekawin Ramayana (XXIV, 51-61) yang disebut Asta Brata merupakan cerita pemimpin yang ideal. Asta Brata itu sesungguhnya ajaran dari Manawa Dharmasastra VII.3-4 yang digubah dalam bentuk yang indah sehingga menjadi populer di Indonesia. Adapun terjemahan isi dari Astabrata dalam Kekawin Ramayana adalah:

“Dan ia disuruh untuk menghormatinya, karena Ida Bhatara ada pada dirinya, delapan banyaknya berkumpul pada diri sang Prabhu, itulah sebabnya ia amat kuasa tiada bandingnya. Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni, demikian delapan jumlahnya, beliau-beliau itulah sebagai pribadi sang raja, itulah sebabnya disebut Asta Brata”

1.      Indra brata, Sang Hyang Indra usahakan pegang, Ia menjatuhkan hujan menyuburkan                     bumi, inilah hendaknya engkau contoh lndrabrata, sumbangan-sumbanganmu itulah                           bagaikan hujan membanjiri rakyat.
2.   Yamabrata menghukum segala perbuatan jahat, ia memukul pencuri sampai mati,                             demikianlah engkau ikut memukul perbuatan jahat, setiap yang merintangi usahakan                          musnahkan.
3.   Bhatara Surya selalu menghisap air, tiada rintangan, pelan-pelan olehnya, demikianlah                     engkau mengambil penghasilan, tiada cepatcepat demikian Surya Brata.
4.   Sasi Brata adalah menyenangkan rakyat semuanya, perilaku lemah lembut tampak,                           senyummu manis bagaikan amerta, setiap orang tua dan pendeta hendaknya engkau                           hormati.
5.   Bagaikan anginiah engkau waktu mengamati perangai orang, hendaklah engkau                               mengetahui pikiran rakyat semua, dengan jalan yang baik sehingga pengamatanmu tidak                      kentara, inilah Bayu brata, tersembunyi namun mulia.
6.   Nikmatilah hidup dengan nikmat, tidak membatasi makan dan minum, berpakaian dan                    berhiaslah, yang demikian disebut Kwera Brata patut diteladani.
7.   Bhatara Baruna memegang senjata yang amat beracun berupa Nagapasa yang membelit,                 itulah engkau tiru Pasabrata, engkau mengikat orang-orang jahat.
8.   Selalu membakar musuh itu perilaku api, kejammu pada musuh itu usahakan, setiap                          engkau serang cerai berai dan lenyap, demikianlah yang disebut Agnibrata.
Dari uarian-uraian diatas jelas menunjukkan bahwa tujuan raja memimpin negaranya                        ialah untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyatnya. Tuntunan Niti dan hukum                             menjadi pedoman bagi sang pemimpin.

1.2       Rumusan Masalah

1.      Bagaimana profil pemimpin Bali yang utama secara kajian tekstual?

2.      Bagaimana kondisi Bali Dalam Konteks Nasional dan Global?

3.      Bagaimana Kriteria Pokok Pemimpin Bali yang ideal?

1.3       Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui profil pemimpin Bali yang utama secara kajian tekstual

2.      Untuk mengetahui kondisi Bali Dalam Konteks Nasional dan Global

3.      Untuk mengetahui kriteria Pokok Pemimpin Bali yang ideal

BAB II

ISI

2.1       Profil Pemimpin Bali Yang Utama Secara Kajian Tekstual

Bicara soal pemimpin, Bali punya segudang teks yang bisa menjelaskan. Konsep ini termuat dalam Itihasa maupun Tantri yang sudah dikenal luas masyarakat. Secara spesifik, teks kepemimpinan Bali bisa didapat dalam ajaran nikti atau niti. Niti artinya mata yang juga memiliki pengertian pemimpin. Bagaimana dengan pemimpin Bali? Ada lima paradigma yang harus dikuasai pemimpin Bali. Secara tekstual dengan merujuk karya karya sastra, agama dan ilmu pengetahuan, profil pemimpin yang tergolong kategori utama dan terpuji adalah sosok pemimpin yang mampu mengintegrasikan intisari kepemimpinan tradisional kedalam system manejemen modern yang visioner dan tradisional. Dalam garis besar, gambaran kharasteristik pemimpin terpuji tersebut adalah

  1. Mampu memahami, menghayati dan menerapkan ajaran kepemimpinan menurut konsep Astabrata yang dilandasi Tri Kaya Parisuda.
  2. Mampu mengintegrasikan tradisi ke dalam penerapan manejamen modern professional yang visioner serta mengedepankan keterbukaa, moral, ilmu pengetahuan dan tangung jawab.
  3. Mereka adalah tokoh yang benar benar merakyat serta sekaligus kharismatik, bersih, terpercaya dan memiliki wawasan budaya.

Sebaliknya gambaran kharakteristik pemimpin yang tercela dan karena itu harus dihindari adalah

  1. Cacat secara pisik, mental dan juga cacat hukum, sosial, politik, ekonomi, agama.
  2. Muncul secara dadakan, sehinga sangat lemah dalam pengalaman, wawasann, orientasi dan kearifan (not maturity) cenderung dan emosional dan megembangkan sistem klik sempit ekslusif.
  3. Bermental peminta-minta, tercakup peminta serta minta jabatan, minta fasilitas, sehinga tidak mandiri, tidak dedikatif, tidak inovatif , tidak mengayomi dan cenderung korup berkelanjutan. Mereka tidak memiliki wibawa, harga diri dan harkat kemanusiaan.

Diagram profil pemimpin utama bersumber kajian tekstual

Lima kecendrungan pokok provinsi  Bali 5 tahun ke depan:

  1. Aspek demografis dan ekologis.

meningkatnya kepadatan penduduk  dan ketersesakan ruang disertai dengan kemacetan lalu lintas pada berbagai simpul, cenderung mendorong kekumuhan, ganguan kebersihan, boros sumberdaya, stress, serta perjuangan hidup makin bersifat keras, gersang dalam toleransi dan anomi.

  1. Aspek ekonomi dan politik

Pertumbuhan ekonomi dan PAD daerah cenderung membaik,  namun makin berkembang sifat faradok dalam kehidupan ekonomi kemakmuran trbatas yang dibarengi kemiskinan meluas, membesarkan kapitalisme di tengah wacana ekonomi kerakyatan, kebebasan bangkitnya industri kerajinan yang disertai terpuruknya pertanian, makin meratanya utara selatan dengan ketimpangan barat timur. Dalam kehidupan politik, amanat reformasi total cenderung mandeg, budaya demokrasi belum menujukkan kedewasaan, kekerasan dibalik tameng kebebasan masih berlanjut. Pemilu 2004 yang multi partai dan terbingkai dalam wacana demokrasi, HAM dan kebebasan sangat rawan akan benturan dan konflik pisik yang menuntut kharismatik pengamananya. Juga berkembang kecendrungan tumbuh kebangkitan semangat dan aplikasi otonomi daerah orientasi kelompok eksan  masih kental, kebangkitan nasionalisme yang berasas pancasila dan bhineka tunggal ika perlu lebih dipacu. Pembangunan dan network global memerlukan energi plus secara bersama dan terpadu.

  1. Aspek sosial hukum dan publik

Dinamika sosial kearah  masyarakat plural dan multi  kultural merupakan fenomena aktual yang tidak terelakkan terkait dengan misi keterbukaan dan kesejagatan. Benturan sosial melalui format adat, format modern dan format primordial memerlukan pola manajeman konflik yang lebih efektif. Namun di tengah tengah keterbukaan sosial, peluang network dan kerjasama lintas daerah dan lintas bangsa makin terbukaa lebar dan muatan ekonomi, budaya, pendidikan, politik, priwisatadan seni. Supremasi hukum masih merupakan wajah nyata  kehidupan Negara hukum. Namun suport publik kearah tertib hukum makin membesar. Visi kehidupan publik cenderung bersifat pragmatis, jangka pendek, instant dan konteporer, terkait dengan tuntutan kehidupan primer yang terjawab tuntas dibawah baying bayang krisis yang masih berkelanjutan.

  1. Aspek SDM dan Pendidikan

Kualitas SDM yang tinggi merupakan sumberdaya yang vital dan kunci bagi keberhasilan masa depan. Peluang untuk pembenahan sangat trbuka, karena gerakan peningkatan mutu SDM memperoleh dukungan yang luas. Tantangan yang dihadapi cukup luas. Tantangan yang dihadapi cukup besar, secara internal ketegangan dan konflik lntra warga merupakan karakter dasar yang masih sulit berubah dan secara eksternal sikap serba pemisip dapat merupakan boomerang yang makin fatal pendidikan sebagai sektor strategis untuk memperbaiki dan komitmen publik untuk benar benar meningkatkan pendidikan terus menunggu bukti nyata. Membangun SDM yang berkualitas tinggi, unggul dan kompetitif secara nasional dan golongan merupakan tantangan masa depan.

e.   Aspek Budaya dan Seni Daftar tingalan warisan budaya bali sepanjang DAS pekerisan, petanu, museum Bali, pura Besakih dan lain lain merupakan bukti sejarah, arkeologis dan antropologis bahwa provinsi bali memiliki tenaga tradisional banjar desa adat, subak, sekaa sebagai pilar budaya dan seni merupakan bukan saja identitas, melainkan juga symbol dan wacana “metaksu” bagi daerah ini. Aspaek ini merupakan potensi dasar dan cara pendekatan yang ampuh bagi pembangunan bali ke depan. Di samping kemampuan melestarikan kemampuan untuk mencegah distorsi, maka komersialisasi, obyetifikasi merupakan tantangan masa depan.

2.2       Kondisi Bali Dalam Konteks Nasional dan Global

Kondisi Bali Bali merupakan ekologi pulau kecil, terbatas dalam sumber daya alam, namun besar dalam potensi kebudayaan dan pariwisata. Implementasi otonomi daerah, tuntutan internal dan tekanan eksternal cenderung mengantarkan denyat pembangunan bali bergerak secara partial dan lemah kordinasi. Menjadi ancaman serius apabila terjadi disinttegrasi bali secara ekologis, ekonomi, politik. Sosial, budaya dan agama. Komitmen untuk menjaga keutuhaan bali harus kuat dan setiap kabupaten dituntut untuk memberikan kontribusi nyata terhadap hal ini.

  1. Konteks Nasional Republik Indonesia merupakan tenaga besar di kawasan Asia potensial dalam berbagai sumber daya, punya catatan sejarah yang sangat signifikan dalam membangun The New Emerging Forces, solidaritas selatan selatan, solidaritas Asean, namun krisis nasional yang dihadapi masih berkelanjutan Reformsi total masih mandeg dalam kehidupan nyata. Setiap daerah dituntut memberikan kontribusi nyata. Setiap daerah dituntut dalam mengatasi krisis secara lokal maupun nasional. Baik sebagai pulau kesenian dan kebanggaan Indonesia telah berperan penting dalam membangun Diplomasi kebudayaan dalam upacara memperbaiki citra Indonesia secara daerah dankabupaten lain, bali memiliki peluang dan potensi besar dalam diplomasi kebudayaan.
  2. Konteks Global (internasional) Revolusi komunikasi, tranportasi ilmu pengetahuan dan pariwisata telah mengantarkan masyarakat kita terbuka secara global dan globalisasi telah sangat dekat berada di tengah tengah keluarga, banjar dan desa kita. Unsur- unsur ikatan globalisasi sangat luas mencangkup: ekonomi, demokratisasi, HAM, budaya, hukum dan lain lain. Peluang untuk maju secara ekonomi sosial budaya dalam era globalisasi sangat terbuka, namun himpitan dan epidermis multi dimensi dari gobalisasi juga sangat dahsyat. Paradoks global kebebasan dan keterikatan, globalisasi dan lokalisasi, kemakmuran dan kemiskinan, keharkatan dan kenistaan, kedamaian dan kekerasan, aflikasi dan konflik merupakan fenomena dikhotomik yang dalam persfektif budaya bali dapat dipahami melalui konsep Rwabhineda. Globalisasi benar-benar merupakan peluang dan ancaman yang harus dicermati, diwaspadai dan direspon secara konsepsual dan berwawasan luas. Seluruh bahasan di atas mangungkapkan betapa kompleksnya misi pembangunan bali kedepan, provinsi bali memiliki berbagai peluang dan beragam tantangan, baik secara sektoral dan bidang, maupun local dan global untuk mampu merespon kondisi tersebut secara positif dan kontruktif, memang di perlukan figur pemimpin yang unggul dan berkualitas tinggi: (1) kokoh dalam pijakan tradisi dan budaya, (2) Cerdas dengan wawasan modern yang visioner dan profesional, (3) Mampu berbuat nyata dan merakyat dalam aksi.

2.3       Kriteria Pokok Pemimpin Bali

Dalam upaya menyambung kekokohan tradisi budaya yang luhur dan luhur (tekstual), mempertahankan prestasi pembangunan Bali yang terpuji serta kemampuan secara cerdas mengantisipasi berbagai peluang dan tantangan ke depan (kontekstual), maka kriteria utama pemimpin yang diharapkan Provinsi Bali adalah sebagai berikut:

2.3.1    Kriteria kualitatif

  • Kokoh dalam jati diri, mampu berpijak dan menerapkan konsep Asta Bratha yang berlandaskan Tri Kaya Parisudha. Profil ini sangat  Ideal dari berbagai aspek secara komprehensif dan punya komitmen tinggi dalam perwujudan Jagadhita Bhuana Agung dan Bhuana Alit.
    • Visioner dan Bersih, profil pemimpin visioner memiliki wawasan luas berdimensi lokal yang mampu melindungi local Genius dan berdimensi keandalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta menjunjung tinggi moral, etika, kejujuran dan kebenaran (Dharma)
    • Reformis, Nasionalis, dan Kokoh kebaliannya, Profil pemimipin ini mampu menawarkan ide-ide pembaharuan kearah perbaikan, kokoh dalam jiwa nasionalisme yang berpijak kepada aplikasi konsep Bhineka Tunggal Ika, serta loyal dalam membangun kesatuan dan keragaman Indonesia. Juga loyal, berani dan mampu menjaga keajegan Bali dari tiga aspek yaitu 1) Adat dan Budaya yang dilandasi atas nuansa religius dan spiritual, 2) Mengajegkan Tanah Bali, 3) Menjaga Populasi orang bali demi menjaga Bali yang utuh, maju dan beradab.
    • Modern dan profesional, profil pemimpin ini mampu menerapkan asas-asas kepemimpinan dan manajemen yang modern dan profesional, kuat dalam nuansa perencanaan, implementasi, koordinasi dan pengawasan. Mereka adalah sosok negarawan yang kharismatik mampu membangun pemerintahan yang baik dan bersih, serta menghidupkan komuniti yang partisipasif dan mengembangkan jaringan secara luas.

2.3.2    Kriteria Kuantitatif

  • Sehat secara fisik dan mental, juga secara hukum, social, ekonomi, pilitik dan agama yang dapat diukur dengan parameter yang jelas.
  • Berusia 45-55 tahun

Rentangan usia tersebut dianggap cukup memadai memiliki kematangan psikologis-emosional-nasional, serta masih cukup tegas secara fisik jasmaniah.

  • Pendidikan minimal sarjana (S1), pemimpin masa depan harus kokoh dalam dasar pendidikan. Sarjana adalah modal dasar untuk kualitas SDM. Dengan latar belakang kesarjanaan, pemimpin tersebut akan memiliki PD yang tinggi, cendrung terbuka dan kritis terhadap ide-ide baru, peka terhadap peluang kemajuan, mampu mengedepankan otak dari pada otot.
  • Memiliki jenjang karier yang bagus. Secara kuantitatif, jenjang karier ini dapat dicermati melalui Curiculum Vitae pemimpin yang bersangkitan. CV mengakumulasikan kompenen basik dan jenjang pengalaman sebagai refliksi kematangan psiko-kutural-agama.

2.3.3    Kriteria Khusus dan Perspektif Agama, Sosial, Budaya dan Seni.

Memiliki apresiasi seni tinggi dan berwawasan budaya dan menjungjung Dharma agama yang mapan berjiwa reigius. Profil pemimipin ini diharapkan benar-benar memahami hakekat, jiwa dan inti kehidupan masyarakat dan kebudayaan sebagai masyarakat seni. Mereka adalah tokoh yang mengakar masyarakat, berkharisma dan dipercaya, mampu bersama publikmengantarkar kemajuan dan mewujudkan kesejahteraan yang merata. Pemimpin yang mengedepankan wawasan budaya, berpotensi lebih mampu menggerakkan dinamika pembangunan secara harmonis , arif, sejuk, damai dan humanis.

Provinsi Bali adalah provinsi berbudaya Hindu dan seni dalam citra, rencana dan realitas. Sepuluh tahun terakhir, Bali mencapai prestasi dan kemajuan yang amat pesat dan berarti dan dapat berfungsi sebagai modal dasar (inner and outer power) bagi pembangunan Bali berkelanjutan. Kedepan dalam kurun waktu 20010-2015 peluang dan tatanan Bali makin besar dan kompleks secara sektoral, lintas sektor dalam konteks lokal, nasional, global. Untuk mampu merespon kondisi aktual secara positif dan konstruktif diperlukan figur pemimpin yang unggul dan berkualitas tinggi: (1) kokoh dalam jati diri, pijakan tradisi dan budaya:(2) cerdas dengan wawasan modern yang visioner dan profesional; (3) mampu berbuat dan mengantarkan masyarakat Bali melalui aksi nyata yang bertumpu pada paradigma kenyataan, demokrasi dan keadilan.

Maka demi menjaga keajegan segala aspek Agama, sosial, budaya dan seni di Bali, sudah seyogyanya pemimpin dan rakyat Bali berbuat lebih maksimal lagi, untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tetap ajeg. Hal itu sangat jelas dan dipandang sebagai sesuatu yang wajar, karena Bali memiliki ciri-ciri khas di bidang religi, sosial, dan budaya dan seni. Keempat hal itu perlu dipupukkembangkan selain demi kesejahteraan umat Hindu di Bali, juga karena memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan industri pariwisata nasional. Para pemimpin Bali seharusnya bertekat bulat agar rakyat Bali menjadi tuan di tanah kelahirannya sendiri, ingin mengatur rumah tangganya dengan kekuatan sendiri, mandiri, dan ingin mempertahankan warisan leluhurnya yang bernilai sangat tinggi. Rakyat Bali-pun ingin anak-cucunya dikemudian hari mencapai moksartham jagaditaya ca iti dharmah yakni kebahagiaan lahir dan bathin sesuai dengan ajaran Agama Hindu. Politik pemerintahan yang sesuai di Bali adalah seperti yang diatur dalam Reg Veda II sampai IX, di mana secara panjang lebar telah diulas tentang persyaratan pemimpin, pengambilan sumpah jabatan, swadharma pemimpin, dan model demokrasi menurut ajaran Veda.

Apabila pemimpin itu mampu mewujudkan secara keseluruhan, maka para pemimpin mulai tingkat Gubernur sampai Kepala Desa di Bali diharapkan melaksanakan pola dan kebijakan pemerintahan menurut Veda, dan untuk ini pihak legislatif dan eksekutif didampingi pemimpin-pemimpin umat Hindu terlebih dahulu merancangnya dengan matang. Sekolah dan lembaga pendidikan di semua tingkatan dapat pula ditata bernuansa Hindu, sosial, budaya dan seni. Dengan kata singkat, kriteria khusus itu diperlukan agar Bali dapat menata kehidupan religi, sosial, seni dan budaya menurut ajaran Agama Hindu.

BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapas saya simpulkan bahawa secara kajian tekstual dan pengamatan kontekstual dari perspektif sosial, budaya dan seni merekomendasikan sembilan kriteria pokok pemimpin Bali kedepan sebagi berikut:

1. Kriteria Kualitatif :

(a) kokoh dalam jati diri, tradisi (astabrata)

(b) visioner dan bersih

(c) reformis, nasionalis dengan ke-Balian yang kokoh.

(d) modern, profesional.

2. Kriteria Kuantitatif :

(a) sehat fisik, mental

(b) usia 45-55 tahun

(c) pendidikan minimal S1

(d) memiliki karier dan CV yang bagus

3. Kriteria Khusus :

(a) memiliki apresiasi seni, berwawasan budaya dan merakyat yang diterima dan terpuji di lingkungan kerabat, komunitif.

(b)  Paket yang ideal adalah terbaik dari partai pemenang Pemilu dengan pasangan alternatif tokoh kampus, tokoh birokrasi, tokos swasta atau tokoh budaya.

(c)  Sebagai bagian dari suatu negara hukum (RI kesatuan), kriteria ini tetap mengedepankan dan menghormati kriteria menurutaturan perundang-undangan yang berlaku bagi calon pemimpin tingkat kabupaten seperti kewarganegaraan dan lain-lain.

(d) Pemimpin Bali yang utama adalah pemimpin yang utuh menyeruakan amanat hati nurani rakyat, mampu membangun sistem pemerintahan yang baik dan bersih, serta menggerakkan kehidupan komuniti dan publik yang partisipatif. Bali memiliki sejumlah tokoh yang menerimani kriteria ini.

(e)  Mari secara bersama, terpadu dan penuh semangat demokrasi, persatuan kita songsong sukses kepemimpinan di provinsi Bali secara sejuk dan damai dibawah payung keharkatan dan peradaban kemanusiaan.

3.2       Saran-saran

Berdasarkan pemaparan di atas dapat kami sarankan bahwa salah satu nilai lokal, pemimpin itu adalah orang yang memang dikehendaki menjadi pemimpin oleh rakyat banyak. Dalam ilmu Nitisastra orang banyak itu disebut Mahajana Samanta. Karena dikehendaki oleh orang banyak maka pemimpin itu disebut Mahasamanta. Pemimpin itu bukan mereka yang ambisius ingin menjadi pemimpin. Karena mabuk ingin menjadi pemimpin lalu membentuk tim sukses. Masyarakat seperti telah kehilangan tokoh pemimpin panutan karena banyak diantara mereka yang terjebak pada godaan-godaan jangka pendek yang bersifat instrumental sehingga melupakan nilai-nilai instrinksik jangka panjang. Masyarakat mulai kehilangan tokoh-tokoh pemimpinnya. Indikasi kearah itu sudah didepan mata, betapa banyak pemimpin yang terjerat masalah keuangan dan betapa tingginya golput pada setiap pemilihan kepala daerah. Semoga masyarakat tidak skeptis terhadap pemimpinnya.

DAFTAR PUSTAKA

Gorda, 1996, Etika Hindu dan prilaku Organisasi. Denpasar : Widya Kriya gematama.

Kartodiharjo, Sartono 186, Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial, Jakarta LP3ES.

PGHN 6 Tahun singaraja, 1971, Niti Sastra Dalam Bentuk Kekawin, Denpasar,

Pemda Tingkat I Bali.

Wirosardjono, Soetjipto, 2007. Simbol Budaya dan Teladan Pemimpin Refleksi

Kultural, Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

http://bali.stitidharma.org/mengapa-bali-menuntut-otsus/

http://www.yowanadharmopadesa.org

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s