Laporan PKL Jawa Tengah-Bali

BAB  I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sejarah merupakan suatu hal yang tidak bisa kita pisahkan dalam perkembangan kehidupan kita dari masa – ke masa. Karena sejarah dapat mengungkapkan apa, bagaimana, dan mana asal – usul kehidupan dari jaman ke jaman, seperti ungkapan Presiden Indonesia kita yang pertama yaitu Bung Karno pernah mengungkapkan kutipan kata singkat “ Jas Merah “ yang artinya jangan pernah kita melupakan sejarah.

Generasi muda pada jaman sekarang, cendrung terseret ke hal – hal negatif, menyepelekan warisan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang, yang akibatnya moral manusia menjadi berkurang dan bahkan melanggar norma – norma yang telah tertanam dari zaman dahulu.

Melihat situasi seperti itu, dari pihak terkait seperti dinas Kebudayaan dan Pariwisata perlu mengadakan suatu sosialisasi kepada masyarakat seluruh Indonesia untuk ikut berperan aktif melestarikan dan menjaga warisan budaya.  Menjaga warisan budaya disinilah peran pemerintah melakukan suatu tindakan sebagai wujud motivasi kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut serta menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Banyak warisan budaya terdapat di tanah air Indonesia dari sabang sampai merauke seperti peninggalan. Seperti candi – candi ritual upacara dan kesenian berupa tari dan musik / gambelan. Sisi yang masih mengalami suatu kelemahan tentang pelestarian warisan budaya ialah bangunan yang berupa candi – candi sebagai tempat melakukan persembahyangan maupun ritual. Contoh candi yang terkenal di Indonesia bahkan ke seluruh dunia yang letaknya di tanah Jawa yang sampai sekarang masih ada, hanya saja dalam keadaan memperihatinkan, karena banyak mengalami kerusakan akibat bencana maupun akibat sengaja dirusak oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab.

Banyak masyarakat Indonesia tidak tahu keberadaannya, bahkan tidak pernah melihat langsung bagaimana keadaan candi – candi tersebut, dan banyak yang tidak mengetahui bagaimana sejarah hingga terciptanya atau dibuatnya candi tersebut.

Melihat hal tersebut, menarik rasa perihatin dan merasa terundang bagi kami di kalangan mahasiswa untuk melakukan suatu observasi sebagai rasa ikut melestarikan warisan budaya walaupun hanya sekedar berkunjung, melihat, bentuk bangunan dan tata letak bangunan.

Melalui kegiatan Praktek Kerja  Lapangan (PKL)/ karya wisata diharapkan dapat membantu memberikan dan menumbuhkan rasa kecintaan serta pengertian terhadap budaya bangsa. Sehingga para generasi muda (Mahasiswa) dapat berperan aktif , ikut mengembangkan serta memelihara budaya bangsa.

Mengingat begitu pentingnya PKL maka dalam kesempatan yang sangat terbatas yaitu hanya berlangsung dalam waktu 4 hari terhitung mulai tanggal 23 sampai 26 juni 2011, dilaksanakanlah kunjungan (survey) ke beberapa lokasi yang merupakan saksi sejarah yang menggambarkan betapa tingginya peradaban bangsa Indonesia serta tempat–tempat yang menyimpan keindahan dan keagungan sehingga merupakan aset bangsa yang adiluhung yaitu candi-candi Hindu di Provinsi Jawa Tengah seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton Yogyakarta dan Candi Ceto.

Adapun hasil dari kunjungan ke tempat-tempat tersebut akan kami sampaikan dalam bentuk laporan sederhana dan ringkas dengan harapan dapat memberikan sumbangsih bagi pembaca khususnya pecinta kebudayaan.

B.     Rumusan Masalah.

Dari latar belakang di atas dapat ditarik beberapa rumusan masalah di antaranya :

  1. Bagaiman sejarah singkat Pura Agung Blambangan, Pura Mandara Giri, Candi (Prambanan, Borobudur dan Ceto ), Keraton Yogyakarta?
  2. Bagaiman bentuk tata bangunan /denah bangunan beserta bagian dan fungsi – fungsi?
  3. Bagaimana tema budaya dan makna dari Pura Agung Blambangan, Pura Mandara Giri, bangunan Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton Yogyakarta, Candi Ceto?

C.    Tujuan.

Apapun kegiatan atau aktivitas yang dilakukan selalu dilandasi oleh suatu tujuan yang pasti :

  1. Untuk mengetahui sejarah singkat Pura Agung Blambangan, Pura Mandara Giri, Candi (Prambanan, Borobudur dan Ceto ), Keraton Yogyakarta.
  2. Untuk mengetahui bentuk tata bangunan /denah bangunan beserta bagian dan fungsi – fungsi.
  3. Untuk mengetahui tema budaya dan makna dari Pura Agung Blambangan, Pura Mandara Giri, bangunan Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton Yogyakarta, Candi Ceto.

 

D.          Manfaat Teoritis dan Praktis.

1.      Manfaat teoritisnya  adalah mengetahui lebih banyak referensi yang menjelaskan tentang obyek kunjungan serta menambah wawasan imajinatif dan menambah kasanah ilmu pengetahuan.

2.      Manfaat praktisnya adalah kita dapat melihat dan menyaksikan secara langsung tentang keagungan dan makna nyata masing-masing obyek kunjungan serta dapat dipakai perbandingan dari literatur yang mengungkap obyek tersebut dimasa dulu dengan kondisi riil saat ini.

E. Metode

1.      Metode Pengumpulan data

a.       Observasi yang dilakukan di sejumlah objek yang dikunjungi

b.      Wawancara dilakukan dengan sejumlah narasumber yang mengetahui tentang obyek yang dikunjungi.

c.       Pencatatan Dokumen dilakukan dengan alat perekam dan kamera untuk mengumpulkan data yang diobservasi.

2.      Metode Analisis Data

a.       Analisis deskriptif Kualitatif yaitu dengan cara menjelaskan obyek secara naratif

b.      Langkah-langkahnya yaitu:

1)      Reduksi data adalah penyederhanaan data yang dilakukan melaui seleksi, pengelompokan dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna

2)      Paparan data adalah suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, tabel, grafik atau bentuk lain yang dapat memberikan gambaran secara jelas tentang proses dan hasil tindakan yang dilakukan.

3)      Penyimpulan hasil analisis adalah merupakan inti dari sajian data yang telah terorganisasi dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat dan bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Obyek Pura Belambangan

1.      Sejarah

Obyek pertama yang dikunjungi adalah Pura Agung Blambangan yang terletak di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Pura ini merupakan Pura terbesar kedua di pulau Jawa setelah Pura Gunung Salak, yang terletak di Jawa Barat, dan Pura Agung Blambangan tersebut terbesar dibandingkan 92 buah pura lainnya yang ada di Banyuwangi yang telah diresmikan 28 juni 1980 silam tepatnya hari sabtu wuku Kuningan yang bertepatan dengan hari raya Kuningan.

Pura Agung Blambangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kerajaan Blambangan yang bercorak Hindu di Banyuwangi itu. Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, yaitu di sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal dengan Alas Purwo. Raja terakhir yang menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit.

Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah taklukan Bali. Kerajaan Mengwi pernah menguasai wilayah ini sehingga bisa kita temukan di Pura Agung Blambangan yaitu pelinggih yang merupakan sthana dari Raja Mengwi. Usaha penaklukan Kesultanan Mataram terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.

Beberapa penemuan sejarah yang menjadi objek cukup menarik dari peninggalan kerajaan blambangan adalah Tembok Rejo, berupa tembok bekas benteng kerajaan Blambangan sepanjang lebih kurang 5 km terpendam pada kedalaman 1 – 0.5 m dari permukaan tanah dan membentang dari masjid pasar muncar hingga di areal persawahan Desa Tembok Rejo. Siti Hinggil atau oleh masyarakat lebih di kenal dengan sebutan setinggil yang artinya Siti adalah tanah, Hinggil/inggil adalah tinggi. Objek Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan pasar muncar (lebih kurang 400 meter arah utara TPI/Tempat Pelelangan ikan). Siti Hinggil ini merupakan pos pengawasan pelabuhan/syah bandar yang berkuasa pada masa kerajaan Blambangan, berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing yang mempunyai “keistimewaan” untuk mengawasi keadaan di sekitar teluk Pang dan Semenanjung Blambangan. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang kini tersimpan di museum daerah berupa Guci dan asesoris gelang lengan, sedangkan kolam dan Sumur kuno yang di temukan masih berada di sekitar Pura Agung Blambangan yaitu di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

 

 

2.      Denah dan Fungsi Pura

Luas pelataran pura Agung tersebut yaitu 1.375 m2, dengan kondisi areal yang disemenisasi. Pura Agung Blambangan memiliki konsep Tri Mandala yaitu nista mandala (bagian luar), madya mandala (bagian tengah) dan utama mandala (bagian dalam). Sebelum masuk ke areal pura tepatnya di areal jabaan, kita melihat wantilan yang merupakan tempat beristirahatnya para pemedek yang mau bersembahyang dan pohon Beringin yang dikeramatkan di areal jabaan pura.

Setelah berada di bagian utama mandala kita dapat melihat pelinggih  Padmasananya yang merupakan pelinggih utama dan sebagai sthana Dewa Siwa dengan ketinggian 10,6 m yang dikelilingi bangunan tembok sebelah barat 37,6 m, Utara 36,5 m, Timur 37,6 m dan selatan 28 m. Sedangkan pelinggih yang lain adalah pelinggih Raja Mengwi yang terletak sebelah kiri dari Padmasana. Di utama mandala juga bisa kita temukan Bale Pasamuan yang merupakan tempat berstananya para dewa-dewi ketika pujawali berlangsung yaitu pada Saniscara Umanis Wuku Kuningan, yang bertepatan dengan hari raya Kuningan. (Wawancara dengan pangempon Pura Agung Blambangan, 23 Juni 2011).

Bangunan pura Agung tersebut masih belum selesai karena ada bangunan yang harus diselesaikan pula seperti : paduraksan berbentuk Kori Agung Candi Penataran dan dua buah Paduraksan kecil gaya Bali dan Candi Bentar. Selain itu direncanakan pula bangunan Balai Banjar, Kantor Parisada, Rumah Dinas Pemangku dikompleks pura Agung itu.

Ketika kami melaksanakan persembahyangan situasi di halaman pura ini cukup rindang karena banyak ditanami pepohonan seperti pohon cempaka, kamboja dan lain-lain sehingga persembahyangan menjadi sangat sejuk dan nyaman.

3.      Makna Sosial, Budaya dan Religius Pura Agung Blambangan

Makna sosial, budaya dan religius dari Pura Agung Blambangan adalah pura  secara sosial dapat dimaknai sebagai tempat berkumpulnya para bakta ataupun pemuja yang bisa berasal dari berbagai tempat guna menghubungkan diri dengan Tuhan sehingga semakin meningkatkan rasa cinta akan persaudaraan sesama manusia khususnya umat Hindu di nusantara. Jika dilihat makna pura secara budaya bahwa pura sebagai hasil budaya manusia yang dipengaruhi oleh unsur agama dan religious, dan dari interaksi umat yang melakukan persembahyangan tentu saja akan melahirkan akulturasi budaya. Sedangkan makna pura secara religius merupakan sebagai tempat melaksanakan persembahyangan dan pemantapan beragama sangat perlu guna mempertebal keyakinan pada diri sendiri, hingga yakin akan keselamatan dalam mengarungi berbagai cobaan berbagi hidup. Melalui ajaran agama segala nafsu pada diri sendiri bisa terkendalikan yang kesemuanya itu pada hakekatnya menuju kepada perdamian abadi. Namun, setiap umat beragama dalam mencapai kedharmaan menempuh jalannya sendiri-sendiri dan menggunakan cara-cara berbeda satu sama lain. Khusunya bagi umat Hindu jalan persembahyangan di lakukan dipura-pura untuk bisa memantapkan diri dalam menghubungkan atau mendekatkan pikiran kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Tujuan mendekatkan pikiran kepada Sang Hyang Widhi Wasa itu memohon keselamatan,mencapai ketenangan dan pada akhirnya untuk menapatkan ” kebahagiaan ”, baik lahir maupun batin.

B. Obyek Pura Mandara Giri

1.      Sejarah Berdirinya Pura Mandara Giri

Obyek PKL yang kedua yang kita kunjungi yaitu pura Mandara Giri yang terletak di di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Keinginan pemeluk Hindu di Lumajang dan sekitarnya untuk membuat pura sesungguhnya telah muncul sejak tahun 1969. Keinginan ini tampak bersambut dengan keinginan sejumlah tokoh Hindu di Bali, terutama sejak diadakan nuur tirta (memohon air suci) dari Bali langsung ke Patirtaaan Watu Kelosot, di kaki Gunung Semeru, berkaitan dengan diaturkan upacara agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, di lambung Gunung Agung, Bali, Maret 1963. Kegiatan nuur tirta ke Watu Kelosot itu kembali dilakukan pada tahun 1979 berkaitan dengan digelarnya lagi upacara Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih. Pada akhir rangkaian Ekadasa Rudra tahun 1979 ini bahkan juga dilakukan upacara majauman ke Patirtaan Watu Kelosot

Sejak itulah dimulainya tradisi rutin nuur tirta di Besakih dan pura kahyangan jagat lain di Bali dihaturkan upacara berskala besar. Kawasan Gunung Sumeru dengan mata air suci Watu Kelosot pun makin dikenal kalangan umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Sebelumnya ketika dihaturkan upacara-upacara besar di tempat-tempat suci atau pura kahyangan jagat di Bali, para pandita atau sulinggih (pendeta) biasanya cukup hanya ngaskara ke Gunung Semeru, memohon ke hadapan Hyang Siwa Pasupati yang diyakini berstana di puncak Gunung Semeru. Seiring dengan kesadaran dan penghayatan umat Hindu terhadap ajaran agama, ditopang pula oleh kemajuan teknologi transportasi, nuur atau mendak tirta ke Gunung Semeru pun dilakukan langsung.

Pura dibangun bertahap. Setelah material terkumpul, maka dilanjutkan dengan pembangunan Padmasana yang menghadap ke timur. Tetapi tidak bisa dituntaskan. Dipindah agak ke utara (masih menghadap ke timur), tidak bisa diselesaikan juga. Ada pawisik (petunjuk gaib) agar dihadapkan ke selatan. Sejak itu pembangunan lancar dan punia (sumbangan) mengalir dari umat di Bali maupun di luar Bali.

Pendirian pura bertambah lancar setelah rombongan dari Bali, antara lain Jero Gede Alitan Batur, Tjok Gede Agung Suyasa, Mangku Sueca dari Besakih, tahun 1989 saat nuur tirta (memohon air suci) ke Semeru bertemu umat Hindu asli kawasan Semeru. Rombongan dari Bali ini pun bergabung dengan tim pembangunan pura setempat. Panitia gabungan Sendoro-Bali dibentuk terpadu. Rencana pun kian mengembang seiring dengan mengalirnya punia dari para bakta, umat penderma. Guna menjaga ketertiban dan pertanggungjawaban pengorganisasian, Parisada Kabupaten Lumajang selanjutnya menunjuk sejumlah bakta (umat yang bersedia tulus berkorban) sebagai Panitia Penggalian Dana dan Pembangunan Pura Semeru, lewat Surat Penunjukan nomor 94/PHDI-LMJ/IV/1991 (Wawancara dengan Pengempon Pura Mandara Giri tgl 23 Juni 2011).

2.      Denah dan Fungsi Pura Mandara Giri

Kini bangunan fisik Pura Mandara Giri Semeru Agung sudah dilengkapi dengan candi bentar (apit surang) di jaba sisi, dan candi kurung (gelungkuri) di jaba tengah. Di areal ini dibangun bale patok, bale gong, gedong simpen, dan bale kulkul. Ada juga pendopo, suci sebagai dapur khusus dan bale patandingan. Di jeroan, areal utama, ada pangapit lawang, bale ongkara, bale pasanekan, bale gajah, bale agung, bale paselang, anglurah, tajuk, dan padmanabha sebagai bangunan suci utama dan sentral.

Di lokasi agak menurun, di sisi timur, dibangun pasraman sulinggih, bale simpen peralatan dan dua bale pagibungan selain dapur. Sedangkan di sisi selatan berdiri wantilan megah dan luas. Panitia juga menyiapkan pembangunan kantor Sekretariat Parisada, perpustakaan dan gerbang utama waringin lawang.

Hari Minggu Umanis, Wuku Menail, tanggal 8 Maret 1992, dipimpin delapan pendeta, digelarlah untuk pertama kalinya upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar. Dengan begitu status dan fungsi bangunan pun berubah menjadi tempat suci, pura. Selanjutnya pada bulan Juni – Juli 1992 diaturkan upacara besar berupa Pamungkah Agung, Ngenteg Linggih, dan Pujawali.

Lewat Surat Keputusan Nomor: 07/Kep/V/PHDI/1992, dengan memperhatikan hasil pertemuan pihak-pihak instansi, badan dan majelis yang terkait, di Wantilan Mandapa Kesari Warmadewa, Besakih, tanggal 11 Mei 1992, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat lantas menetapkan nama, status dan pengelola pura. Ditetapkan antara lain: nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Sebagai panyungsung adalah seluruh umat Hindu di Indonesia.

Kini kehadiran pura malah dirasakan memberi rezeki bagi penduduk setempat. Warung-warung makanan hingga kios penjual kaos berlogo Semeru Agung dan beragam cenderamata lain pun berkembang. Begitu juga penduduk di sekitar pura mulai menyediakan kamar-kamar untuk menginap bagi umat Hindu yang datang bersembahyang ke pura. Bahkan, penginapan juga dibangun di sana oleh penduduk setempat. Saban hari memang ada saja umat yang bersembahyang ke Semeru Agung. Lebih-lebih lagi bila hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan dan sejenisnya.

Kehadiran pura ini, nyatanya tidak sebatas hanya mengangkat nama Senduro, Lumajang dan sekitarnya menjadi tambah tenar di kalangan penganut Hindu di seluruh Indonesia. Lebih dari sekadar tenar, kehadiran Pura Mandara Giri Semeru Agung begitu nyata juga mampu memutar roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Di sini vibrasi atau getaran kesucian religius dan spiritualitas betapa nyata membuahkan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitarnya, sekaligus menciptakan kerukunan antarsesama manusia.

3.      Tema Budaya/Makna Sosial, Budaya dan Religius Pura Mandara Giri

Makna sosial, budaya dan religius dari Pura Mandara Giri adalah secara budaya Pura ini memiliki nilai budaya yang tinggi jika dilihat dari estetika bangunan yang memiliki konsep Tri Mandala yaitu nista mandala, madya mandala dan utama mandala.

Sedangkan makna sosial yang terkandung dalam Pura Mandara Giri adalah sebagai tempat berkumpulnya para umat Hindu di Jawa khususnya di Lumajang, ketika proses persembahyangan pada hari-hari tertentu. Setiap tahun antara Juni dan Juli piodalan agung dilaksanakan di Pura Mandara Giri Semeru Agung dan tradisi Bali masih terasa sangat kental. Umat Hindu Bali berdatangan ngaturang ayah dan bersembahyang di pura ini. Pemerintah Daerah Bali, pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten memfasilitasi pelaksanaan piodalan agung ini. Hal itu bisa diterima karena jika mengandalkan daya dukung ekonomi umat di Kabupaten Lumajang, jelas tidak mungkin. Yang menggembirakan adalah adanya kebersamaan dan “kolaborasi” dua tradisi: tradisi tanah leluhur yang telah dilupakan dan kini digali kembali dan tradisi dari tanah sebrang (Bali). Umat Hindu Jawa juga semakin memahami aneka pernik tradisi Bali dan Hindu ala Bali. Di Mandara Giri Semeru Agung akulturasi lokal tampaknya suatu dialog dan dialektika agama dan tradisi.

Sementara itu, piodalan agung antara Juni-Juli di Mandara Giri Semeru Agung, menjadi satu pembuka jalan bagi umat lain memandang Hindu. Pada awalnya, Hindu, khsusunya di Kabupaten Lumajang, dipandang sebagai cara beragama aneh oleh umat setempat. Kini hal itu telah semakin dipahami. Pura Mandara Giri Semeru Agung menjadi satu bukti eksistensi Hindu di tengah mayoritas Jawa yang muslim. Umat di luar Hindu khususnya di Kabupaten Lumajang mulai bisa menerima umat Hindu di sekitar mereka. Hal ini secara politis sangat penting bagi perkembangan Hindu. Umat Hindu di Kabupaten Lumajang misalnya semakin percaya diri menjadi Hindu dan mereka menyadari bahwa memeluk Hindu sama sekali tidak salah dan secara politik dan HAM dijamin. Kehadiran Pura Mandara Giri Semeru Agung, dari sisi umat Hindu Jawa adalah sarat dengan muatan politik agama dan pendidikan agama. Dari segi umat Hindu Bali, pembangunan dan perkembangan Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah sarat dengan muatan religius dan spiritual, dalam kaitannya dengan Jawa sebagai tanah leluhur.

A.    Kawasan Wisata Candi Prambanan

1.      Sejarah Singkat

Candi Loro Jonggrang yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan provinsi Jawa Tengah,kurang lebih 17 KM kearah timur dari kota Yogyakarta atau kurang lebih 53 KM sebelah barat Solo.Komplek percandian Prambanan ini masuk ke dalam 2 wilayah yakni komplek bagian barat masuk wilayah daerah istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah provinsi Jawa Tengah.Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur sungai Opak kurang lebih 200 meter sebelah utara jalan raya Yogya-Solo.

Gugusan candi ini dinamakan “Prambanan” karena terletak di daerah Prambanan. Nama “Loro Jonggrang” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri prabu Boko. Legenda inilah yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifestasi politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya gunung merapi menjadikan Candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan itulah keadaan pada saat penemuan kembali Candi Prambanan. Usaha pemugaran yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia. Pada tanggal 20 Desember 1953 pemugaran candi induk Lorojonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Ir.Soekarno sebagai presiden RI yang pertama.Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan,yaitu pemugaran Candi Brahma dan Candi Wisnu, Candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai diresmikan 23 Maret 1987 sedangkan Candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982  dan diresmikan oleh bapak presiden Soeharto pada tanggal 27 April 1991.

 

2.      Denah Komplek Candi Prambanan dan Bagian serta Fungsi Bangunan

a.      Denah Komplek Candi Prambanan

Gambar.04 Denah Candi Prambanan

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

 

 

 

b.      Bagian dan Fungsi Bangunan

1)      Candi Siwa

Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter adalah terbesar dan terpenting.Dinamakan Candi Siwa karena didalamnya terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini dibagi atas tiga bagian secara vertikal kaki, tubuh dan kepala/atap, kaki candi menggamabarkan dunia bawah tempat manusia yang telah masih diliputi hawa nafsu, tubuh candi menggambarkan dunia tengah tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawian dan atap meluikskan dunia atas tempat para dewa. Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa-dewa dan mahluk-mahluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru (Gunung Everest di India) tempat para Dewa. Percandian Prambanan merupakan replika gunung itu terbuktidengan adanya arca-arca Dewa Lokapala yang terpahat pada kaki Candi Siwa. Empat pintu masuk pada candi itu sesuai dengan keempat arah mata angin.Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar,di kanan kirinya berdiri dua arca raksasa penjaga dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa. Di dalam candi terdapat ruangan yang menghadap keempat arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah-tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing-masing berisi arca: Siwa Mahaguru, Ganesha dan Durga. Dasar kaki candi dikelilingi selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan sebelah dalam terdapat relief cerita Ramayana yang dapat diikuti dengan cara pradaksina (barjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama. Hiasan-hiasan pada dinding sebelah luar berupa “kinari-kinari” (mahluk bertubuh burung berkepala manusia),”kalamakara” (kepala raksasa yang lidahnya berwujud sepasang mitologi) dan mahluk surgawi lainnya. Atap candi bertingkat-tingkat dengan susunan yang amat komplek masing-masing dihiasi sejumlah ratna dan puncaknya terdapat “ratna” terbesar.

1.1  Arca Siwa Mahadewa

Menurut ajaran Tri Murti – Hindu,yang paling dihormati Dewa Brahma sebagai pencipta alam kemudian Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam dan Dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun di Indonesia, Siwa adalah yang paling terkenal. Di Jawa ia diaanggap yang tertinggi karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter berdiri di atas landasan batu setinggi 1 meter. Diantara kakai arca dan landasannya terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai, arca ini menggambarkan raja Balitung. Tanda-tanda sebagai Siwa adalah tengkorak di atas bulan sabit pada mahkotanya,mata ketiga pada dahinya, bertangan empat berselempangkan ular,kulit harimau dipingganggnya serta senjata trisula pada sandaran arcanya. Tangan-tangannya memegang kipas, tasbih, tunas bunga teratai dan benda bulat sebagai benih alam semesta. Raja Balitung dipandang sebagai penjelma Siwa oleh ketrunan dan rakyatnya.

1.2  Arca Siwa Mahaguru

Arca ini berwujud seorang tua berjanggut yang berdiri dengan perut gendut.Tangan kananya memegang tasbih.kanan kiri memegang kendi dan bahunya terdapat kipas. Semuanya adalah tanda-tanda seorang pertapa. Trisula yang terletak di sebelah kanan belakangnya menandakan senjata kasiwa. Arca ini menggambarkan seorang pendeta alam dalam istana raja Balitung sekaligus seorang penasehat dan guru.Karena besar jasanya dalam menyebarkan agama Hindu Siwa maka ia dianggap sebagai salah satu aspek dari Siwa.

1.3  Arca Ganesha

Arca ini berwujud manusia berkepala gajah bertangan 4 yang sedang duduk dengan perut gendut. Tangan-tangan belakangnya memegang tasbih dan kampak sedangkan tangan-tangan depannya memegang patahan gadingnyasendiri dan sebuah mangkuk. Ujung belalainya dimasukkan ke dalam mangkuk itu yang menggambarkan bahwa ia tak pernah puas meneguk ilmu pengetahuan. Ganesha memang menjadi lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, penghalau segala kesulitan. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda ia anak Siwa dan Uma istrinya. Arca ini menggambarkan putra mahkota sekaligus panglima perang raja Balitung.

1.4  Arca Durga atau Lorojonggrang

Arca ini berwujud seorang wanita bertangan 8 yang memegang beraneka ragam senjata: Cakra, Gada, anak panah, ekor banteng, sankha, perisai, busur, panah, dan rambut berkepala raksasa asura. Ia berdiri di atas banteng Nandi dalam sikap “tri bangga” (3 gaya gerak yang membentuk 3 lekukan tubuh) Banteng Nandi sebenarnya penjelmaan daru asura yang menyamar.Durga berhasil mengalahkannya dan menginjaknya sehingga dari mulutnya keluarlah asura yang lalu ditangkapnya. Ia adalah salah satu aspek dari sakti (istri Siwa). Menurut mitologi ia tercipta dari lidah-lidah api yang keluar dari tubuh para dewa. Durga adlah dewi kematian,karenanya arca ini menghadap ke utara yang merupakan mata angin kematian. Sebenarnya arca ini sangat indah bila dilihat dari kejauhan nampak seperti hidup dan tersenyum namun hidungnya telah dirusak oleh tangan-tangan jahil. Arca ini menggambarkan permaisuri raja Balitung.

2)      Candi Brahma

Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter.Di dalam satu-satunya ruangan berdirilah arca Brahma berkepala empat dan berlengan empat.Arca ini sebernya sangat indah tetapi sudah rusak.Salah satu tangannya memegang tasbih yang satunya memegang “kamandalu” tempat air. Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing-masing menghadap keempat arah mata angin.Sebagai pencipta ia membawa air karena seluruh alam keluar dari air. Tasbih menggambarkan waktu.Dasar kaki candi juga dikelilingi olehselasar yang dibatasi pagar langkan dimana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan cerita ramayana dan relief serupa pada candi siwa.

3)      Candi Wisnu

Bentuk ukuran dan hiasan dinding luarnya sama dengan candi Brahma. Di dalam satu-satunya ruangan yang ada berdirilah arca wisnu bertangan empat yang memegang Gada, Cakra, Tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita Kresna sebagai “Awatara” atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.

4)      Candi Nandi

Luas dasarnya 15 meter persegi dan tingginya 25 meter.Di dalam satu-satunya ruangan yang ada terbaring arca seekor lembu jantan dalam sikap merdeka dengan panjang kurang lebih 2 meter.Di sudut belakangnya terdapat arca Dewa Candra yang bermata 3 berdiri di atas kereta yang ditarik 10 ekor kuda. Surya berdiri di atas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.

5)      Candi Angsa

Candi ini berisi satu ruangan yang tak berisi apapun.Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya untuk kandang angsa hewan yang dikendarai oleh Brahma.

6)      Candi Garuda

Bentuk ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa.di dalam satu-satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor naga.Garuda adalah kendaraan Wisnu.

7)      Candi Apit

Luas dasarnya 6 meter persegi dan tinggi 16 meter.Ruangannya kosong. Mungkin candi ini dipergunakan untuk bersemedi sebelum memasuki candi-candi induk. Karena keindahannya ia mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.

8)      Candi Kelir

Luas dasarnya 1,55 meter persegi denga tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk. Fungsinya sebagai penolak bala.

 

9)      Candi Sudut

Ukuran candi-candi ini sama dengan candi kelir.

3. Tema Budaya/Makna Sosial, Budaya dan Religius

Dilihat dari segi religi, candi Prambanan terdiri dari 3 latar yaitu latar bawah, latar tengah, latar atas yang fungsinya hampir sama dengan Pura di Bali yaitu jabaan, jaba tengah dan jeroan. Sedangkan dibagian latar atas terdiri dari candi-candi yang merupakan perlambangan dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siva). Disimak dari tema sosial candi Prambanan adalah salah satu objek wisata yang digunakan sebagai sarana rekreasi dan penelitian untuk pelajar. Kemudian dari sudut Budaya, Candi Prambanan pada latar bawah sering digunakan sebagai tempat pementasan seni-budaya seperti: sendratari berlakon Ramayana, Mahabratha dan seni-budaya yang lain.

B.     Kawasan Wisata Candi Borobudur

1. Sejarah Singkat

            Sampai saat ini, secara pasti belum diketahui kapan candi borobudur didirikan, demikian juga pendirinya. Menurut prof. Dr Soekmono dalam bukunya “ Chandi Borobudur a Monumen of Mainkind ( UNESCO 1976 )”, menyebutkan bahwa tulisan singkat yang dipahatkan di atas pigura-pigura relief kaki candi (karmawibangga) mewujudkan suatu garis huruf yang bisa bisa diketemukan pada berbagai prasati dari akhir abad 8 samapai awal abad 9. pada abad itu di jawa tengah berkuasa raja-raja dari wangsa dinasti Syailendra  yang menganut agama Budha Mahayana.

Sebuah prasati yang berasal dari abad 9 yang diteliti oleh prof. Dr. J.G Caspris, menyingkapkan silsilah tiga wangsa sailendra yang berturut-turut memegang pemerintahan yaitu Raja Indra, putranya Samaratungga, kemudian putri Samaratungga Pramoda Wardani. Pada waktu raja Samaratungga berkuasa mulailah dibangun candi yang bernama: Bhumi Sam-Bharabudhara, yang dapat ditafsirkan sebagai bukti peningkatan kebajikan, setelah melampoi sepuluh tingkat Bodhisatwa. Karena penyesuaian bahasa jawa agaknya, akhirnya Bhara Budhara menjadi Borobudur.

Dari tokoh Jacques Dumarcay seorang arsitek prancis memperkirakan bahwa candi Borobudur berdiri pada jaman keemasan dinasti sailendra yaitu pada tahun 750-850 M. Keberhasilan yang luar biasa disamping pendirian candi Borobudur juga berhasil menjalankan kekaisaran Khmer di Kamboja yang pada saat itu merupakan kerajaaan yang besar. Setelah menjalankan kerajaan Khmer, putra mahkota dibawa ke Indonesia (jawa) dan setelah cukup dewasa dikembalikan ke Kamboja, yang kemudian menjadi raja bergelar Jaya Warman II pada tahun 802. para pedagang Arab berpendapat bahwa keberhasilan tersebut luar biasa mengingat Ibu Kota kekaisaran Khmer berada di dataran yang jauh di garis pantai, sehingga untuk menaklukannya harus melalui sungai dan danau Tonlesap sepanjang 500 Km. ( A Guide to, Angkar, Down F Roony, 1994 : 24 ).

Lebih lanjut Durmarcay merinci bahwa Candi Borobudur dibangun dalam 5 tahap dengan perkiraan sebagai berikut:

  1. Tahap I ± Th 775
  2. Tahap II ± Th 790 (bersamaan dengan, Kalasan II, Lumbung I, Sojiwan)
  3. Tahap III ± Th 810 (bersamaan dengan Kalasan III, Sewa III, Lumbung III dan Sojiwan III).
  4. Tahap IV ± 835 ( bersamaan dengan Gedong Songo Group I, Sambi Sari, Badut I, Kuning, Banon, Sari dan Plaosan)

(Sumber : The Temple Of Java : Jocques Dumarcay, 1989:27 )

Setelah berhasil dibangun selama 150 tahun, Borobudur merupakan pusat Jiarah megah bagi penganut Budha, tetapi dengan runtuhnya kerajaan mataram sekitar tahun 930 M , pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah kejawa timur dan Borobudurpun hilang terlupakan.

Karena gempa dan letusan gunung merapi, Candi itu mempercepat keruntuhannya. Sedangkan semak belukar tropis tumbuh menutupi Borobudur yan pada abad-abad selanjutnya lenyap di teln sejarah

(Yasir Marjuki & Toeti Herati, 1989)

            Pada abad ke 18 Borobudur pernah disebut dalam salah satu kronik Jawa, babad tanah Jawi. Pernah juga disebut dalam naskah lain, yang menceritakan seorang Pangeran Yogya yang mengunjungi gugusan seribu patung di Borobudur. Hal ini merupakan petunjuk bahwa bangunan candi itu ternyata tiudak lenyap dan hancur seluruhnya. Tetapi baru pada msa pemerintahan Inggris yang singkat (1811-1816) di bawah Sir Thomas Samford Raffles pada tahun 1814, Candi Borobudur dibangkitkan dari tidurnya. Tahun 1915 ditugaskanlah H.C Cornelius seorang perwira zeni agar mengadakan penyelidikan.

Cornelius yang mendapat tugas tersebut, kemudian mengerahkan sekitar 200 penduduk selama hampir 2 bulan. Runtuhan-runtuhanbatu yang memenuhi lorong disingkirkan dan ditimbun disekitar candi, sedangkan anah yang menimbunnya dibuang di lereng bukit. Namun pembersihan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara penuh oleh karena banyak dinding-dinding yang dikhawatirkan runtuh.

Kemudian Residen Kedu C.L. Hartman menyuruh membersihkan semua bangunannya sehingga Candinya nampak seluruhnya. 10 tahun kemudian Stupa induknya yang kedapatan sudah dalam keadaan terbongkar, dibersihkan pula bagian dalamnya, untuk kemudian diberi bangunan bambu sebagai tempat menikmati pemandangan sambil minum teh.

Tahun 1885 Ijzerman mengadakan penyelidikan dan mendapatkan bahwa dibelakang batu kaki candi ada lagi kaki candi lain yang ternyata dihiasi dengan pahatan-pahatan relief. Kaki Ijzerman termashur dengan desas-desus relief misterius yang menggambarkan teks karmawibangga yaitu suatu teks Budhis yang melukiskan hal-hal yang baik dan buruk, masalah hukum sebab dan akibat bagi perbuatan manusia. Tahun 1890-1891 bagian relief itu dibuka seluruhnya kemudian dibuat foto oleh CEPHAS untuk dokumentasi, lalu ditutup kembali.

2. Denah Dan Fungsi Bangunan Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha yaitu sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stupa utama di tingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.

            Menurut Sutterheim dalam bukunya “Tjandi Borobudur, Naam Vorm en Beteekens”, 1929 yang dikutip Purnama Atmadi menyebutkan hasil perubahannya, bentuknya sesuai keterangan dalam kitab Jawa Kuno “Sang Hyang Kamahayanikam” yang menguraikan filsafat Agama Budha, dikatakan bahwa bangunan Candi Borobudur adalah “Stupa Prasadi” suatu bangunan gabungan dari stupa pada bagian atas dan piramida yang mempunyai undag-undag. Dikatakan pula bahwa seluruh stupa prasada dapat dibagi menjadi 3 bagian dimana pembagian ini dapat pula menyatakan perbedaan dari:

  1. Dunia nafsu, hasrat, yang disebut Kamadhatu
  2. Dunia bentuk, wujud, rupa, yang disebut Rupadhatu
  3. Dunia tanpa bentuk, tanpa wujud, tanpa rupa disebut Arupadhatu

Dengan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut Sutterhiem bentuk semula yang dipunyai Candi Borobudur adalah sama dengan bentuk yang dipunyai sekarang.

Menurut W.O.J. Nieuwenkamp yang dikutip Ph. Soebroto beranggapan bahwa bentuk Candi Borobudur pada dasarnya merupakan bentuk bunga Padma (Lotus). Maka apa yang tergambar pada tingkatan Kamadhatu dan Rupadhatu dapat disamakan dengan kelopak-kelopak daun bunganya, sedangkan Arupadhatu tempat Stupa itu berada, dianggap sama dengan putik sarinya. Lotus adalah tempat kelahiran Budha, sehingga bentuk Stupa dapat dimaknai, stupa bagian bawah tempat bersemayam Budha, sedangkan Stupa bagian atas menggambarkan Budha itu sendiri. Dengan kata lain bentuk stupa secara utuh menggambarkan Budha yang duduk di atas kelopak-kelopak daun bunga Lotus (W.O Nieuwenkapt, 1931).

Dari uraian di atas yang didasarkan pada tekhnik bangunan dan filosofis dapat disimpulkan bahwa pada awalnya bentuk candi Borobudur mendekati seperti yang diperkirakan oleh H. Parmantier, namun karena kesulitan tekhnik yang tidak dapat dihindari maka ada perubahan konsep. Demikian hipotesa penutupan relief Karmawibangga (dasar kaki candi) dengan konstruksi dinding undag dan selasar sejumlah 12.750 m³ lebih didasarkan pada alasan tekhnik untuk memperkuatatau menahan beban batu ditingkat atasnya.

Dari aspek seni bangunan ada 2 bentuk seni arsitektur yang dipadukan yaitu:

  1. Hindu Jawa Kuno, yaitu adanya punden berundak, relief maupun Budha yang sedang bermeditasi
  2. India, yaitu adanya stupa, Budha dan lantai yang bundar.

Selain bangunan di atas juga terdapat beberapa bangunan yang terdiri dari:

1. Patung Buddha

Bangunan candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas  merupakan suatu bujur sangkar. Tidak ada ruangan dimana orang bisa masuk, melainkan hanya bisa naik sampai terasnya. Secara keseluruhan bangunan candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat, dimana masing-masing tingkat mempunyai maksud tersendiri. Sebagai sebuah bangunan, candi Borobudur dapat dibagi dalam 3 bagian yang terdiri dari kaki atau bagian bawah, tubuh atau bagian pusat dan puncak. Pembagian menjadi 3 tersebut sesuai dengan 3 lambang atau tingkat dalam susunan ajaran Budha yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu yang masing-masing mempunyai pengertian sebagai berikut:

1.      Kamadhatu

Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat atau nafsu. Dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat atau nafsu dan bahkan dikuasai oleh hasrat dan kemauan atau nafsu yang digambarkan pada relief yang terdapat di kaki candi asli dimana relief tersebut menggambarkan adegan dari kitab Karmawibangga yaitu naskah yang menggambarkan sebab-akibat, serta perbuatan yang baik dan jahat. Deretan relief ini tidak tampak seluruhnya karena tertutup oleh dasar candi yang lebar, hanya disisi tenggara tampak relief yang terbuka bagi pengunjung.

2.      Rupadhatu

Sama dengan dunia antara atau dunia rupa, bentuk, wujud. Dalam dunia ini manusai telah meninggalkan segala hasrat, nafsu tetapi masih terikat pada nama dan rupa, wujud, bentuk. Bagian ini terdapat pada tingkat 1-5 yang berbentuk bujur sangkar.

3.      Arupadhatu

Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa, wujud, bentuk. Pada tingkat ini manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama-lamanya segala ikatan kepada dunia fana. Pada tingkat ini tidak ada rupa, bagian ini terdapat pada teras bundar I, II dan III beserta stupa induknya

Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief cerita dan relief hias, tetapi juga patung-patung yang sangat tinggi nilainya. Namun tidak semua patung dalam keadaan utuh, banyak yang tanpa kepala atau tangan (300 buah) dan 43 hilang. Hal ini disebabkan oleh bencana alam dan tangan jahil atau pencurian sebelum Candi Borobudur diadakan renovasi (sebelum tahun 1973).

Patung-patung tersebut menggambarkan Dhayani Budha yang terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung Budha di Candi Borobudur berjumlah 504 buah yang ditempatkan di relung-relung yang tersusun berjajar pada sisi pagar langkan dan pada teras bundar (Arupadhatu).

Patung Budha ditingkat Rupadhatu ditempatkan dalam relief yang tersusun berjajar pada sisi luar pagar langkan. Edangkan patung-patung ditingkat Arupadhatu ditempatkan dalam stupa-stupa berlubang ditiga susunan lingkaran sepusat.

Pada patung Budha di dinding candi terdapat macam-macam mudra yang dimiliki oleh patung-patung yang menghadap kesemua arah bagian Rupadhatu (lingkaran V) maupun dibagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada 5 (Soekmono, 1981). Adapun kelima mudra itu adalah:

1.      Bhumisparca-Mudra

Mudra ini menggambarkan sikap tangan sedang menyentuh tanah. Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari-jarinya menunjuk ke bawah. Sikap tangan ini melambangkan saat sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis serangan iblis Mara. Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Buddha Aksobhya yang bersemayam di timur. Patung ini menghadap ke timur langkang I – IV. Mudra ini tanda khusu bagi Dhyani Buddha Aksobhya sebagai penguasa timur.

2.      Abhaya-Mudra

Mudra ini menggambarkan sikap tangan sedang menenangkan dan menyatakan “jangan khawatir”. Tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan, sedangkan tangan kanan diangkat sedikit di atas lutut kanan dengan telapak menghadap ke muka. Patung ini menghadap ke utara langkan I – IV dan merupakan tanda khusus bagi Dhayani Buddha Amogasidha yang berkuasa di utara.

3.      Dhyani-Mudra

Mudar ini menggambarkan sikap Samadi. Kedua tangan diletakkan dipangkuan, yang kanan diatas yang kiri dengan telapaknya menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu. Patung ini menghadap ke barat di langkang I – IV dan merupakan tanda khusus bagi Dhayani Buddha Amitabha yang menjadi penguasa daerah barat.

4.      Wara-Mudra

Mudra ini melambangkan pemberian awal. Sepintas sikap tangan ini nampak serupa dengan Bumisparca-Mudra tetapi telapak tangan yang kanan menghadap ke atas sedangkan jari-jarinya terletak di lutut kanan. Dengan Mudra ini dapat dikenali Dhyani Buddha Ratna Sambawa yang berthahta di selatan.  Letak patung ini dilangkan I – IV menghadap ke selatan.

5.      Dharmacakra-Mudra

Mudra ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Kedua tangan diangkat sampai ke depan dada, yang kiri dibawah yang kanan. Tangan dikiri itu menghadap ke atas, dengan jari manisnya. Sikap tangan demikian memang serupa benar dengan gerak memutar sebuah roda. Mudra ini ciri khas bagi Dhyani Buddha Wairocana yang daerah kekuasaannya terletak dipusat. Khusus di candi Borobudur, Wairocana ini juga digambarkan denagn sikap tangan yang disebut Witarka Mudra atau sikap tangan sedang menguraikan sesuatu, tangan kiri terbuka di atas pangkuan, dan tangan kanan sedikit terangkat di atas lutut di kanan dengan telepaknya menghadap ke muka dan jari telunjuknya menyentuh ibu jari. Patung ini terletak direlung langkan V dan diteras Buddha I, II, III. Disamping patung Buddha yang  berjumlah 504 buah masih ada satu patung Buddha yang menghebohkan. Konon menurut cerita, Hartman pada tahun 1842 berkunjung ke candi Borobudur dan menemjukan sebuah patung di dalam stupa induk. Cerita ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut sampai akhirnya dimasukkan dalam sebuah laporan tertulis tahun 1953. namun Hartman sendiri tidak pernah menulis suatu laporan tentang kegiatannya di candi Borobudur. Oleh Van Erp patung sengaja tidak dikembalikan ke tempat ia menemukannya, oleh karena tidak ada bukti yang meyakinkan mengenai tempat asal yang sebenarnya. Patung itu kemudian diletakkan di bawah pohon kenari di sebelah barat laut candi. Disamping patung Buddha, dari setiap pintu candi Borobudur juga dijaga arca singa, secara keseluruhan arca singa ada 32 buah.

2. Kunto Bimo

Kunto Bimo terletak pada tingkat Arupadhatu lantai pertama sebelah kanan dari tangga pintu timur. Konon menurut cerita, dahulu ada seorang Raja yang ingin bertemu seorang Ksatria. Kemudian Sang Raja menyentuh Kunto Bimo, selanjutnya Raja tersebut dapat menemukan Ksatria dimaksud beberapa waktu kemudian. Dari cerita tersebiut kemudian sebagian masyarkat mempercayai patung tersebut (Kunto Bimo) bertuah, dapat mengabulkan keinginan setiap peziarah apabila dapat menyentuh Kunto Bimo. Namun semuanya dikembalikan kepada keyakinan kita.

3. Stupa

Ada 2 macam stupa yaitu stupa induk dan stupa berlubang:

a.       Stupa Induk

Stupa induk berukuran lebih besar dari stupa-stupa yang lain dan terletak di puncak sebagai mahkota dari seluruh monumen bangunan candi Borobudur. Stupa ini  mempunyai garis tengah 9,90 m dan tinggi stupa sampai bagian bawah pinakel 7 meter. Di atas puncak dahulu diberi payung (chatra) bertingkat 3 (sekarang tidak terdapat lagi). Stupa induk ini tertutup rapat, sehinga orang tidak bisa melihat bagian dalamnya. Didalamnya terdapat ruangan yag sekarang tidak berisi.

 

b.      Stupa Berlubang

Stupa berlubang atau berterawang adalah stupa yang terdapat pada teras bundar I, II, dan III dimana didalamnya ada 72 buah stupa. Disamping stupa induk dan stupa berlubang masih ada stupa-stupa kecil yang bentuknya hanpir sama dengan stupa yang lainnya, hanya saja stupa ini seolah-olah merupakan hiasan dari seluruh bangunan yang ada. Stupa-stupa kecil ini menempati direlung-relung pada langkan II – IV, sedangkan langkan I sebagian berupa keben dan sebagian berupa stupa kecil yang jumlahnya ada 1472 buah.

4. Relief

Candi Borobudur tidak bisa menunjukkan kemegahan arsitekturnya tetapi jug mempunyai relief (pahatan/ukiran) yang sangat menarik. Relief cerite yang deipahatkan pada candi sangat lengkap dan panjang yang tidak pernah ditemui ditempat lain di dunia bahkan di india sekalipun. Ada 2 jenis relief yang terdiri dari:

a.       Relief Cerita, yang menggambarkan cerita dari suatu teks dan naskah.

b.      Relief Hiasan, yang hanya merupakan hiasan pengisi bidang.

Relief cerita pada Candi Borobudur meggambarkan beberapa cerita yaitu :

a.       Karma Wibangga, terdiri dari 160 panel, dipahatkan pada kaki tertutup.

b.      Lalita Wistara, terdiri dari 120 panel, dipahatkan pada dindung lorong 1 bagian atas.

c.       Jataka dan Awadana, terdiri dari 720 panel, dipahatkan pada lorong 1 bagian bawah, balustrade lorong 1 atas dan bawah, dan balustrade II.

d.      Gandawyuda, terdiri dari 460 panel, dipahatkan pada dinding lorong II dan III, balustrade III dan IV serta Bhadraceri dinding lorong IV.

3. Tema Budaya dan Makna (sosial, budaya, religius)

Dilihat dari tema religious, Borobudur sebgai salah satu peninggalan dinasti Syailendra yang dipergunakan sebagai tempat suci agama Budha. Disamping itu dipandang dari sudut budaya, ada tradisi yang diyakini masyarakat bahwa ada salah satu stupa yang bernama Kunto Bimo pada Arupadhatu bisa mengabulkan segala permohonan apabila dapat menyentuh patung di dalam stupa tersebut. Namun tetap semua itu didasari atas kenyakinan. Kemudian dari sudut pandang social, Borobudur merupakan salah satu tempat tujuan wisata dan sebagai tempat penelitian para arkeolog.

E.     Kawasan Keraton Yogyakarta

1.      Sejarah Singkat

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan) Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya.

1. Filosofi dan Mitologi Seputar Keraton

Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya Karaton Kasultanan Ngayogyakarta merupakan tempat tinggal resmi para Sultan yang bertahta di Kesultanan Yogyakarta. Karaton artinya tempat dimana “Ratu” (bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja) bersemayam. Dalam kata lain Keraton/Karaton (bentuk singkat dari Ke-ratu-an/Ka-ratu-an) merupakan tempat kediaman resmi/Istana para Raja. Artinya yang sama juga ditunjukkan dengan kata Kedaton. Kata Kedaton (bentuk singkat dari Ke-datu-an/Ka-datu-an) berasal dari kata “Datu” yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja. Dalam pembelajaran tentang budaya Jawa, arti ini mempunyai arti filosofis yang sangat dalam.

Keraton Yogyakarta tidak didirikan begitu saja. Banyak arti dan makna filosofis yang terdapat di seputar dan sekitar keraton. Selain itu istana Sultan Yogyakarta ini juga diselubungi oleh mitos dan mistik yang begitu kental. Filosofi dan mitologi tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan dua sisi dari sebuah mata uang yang bernama keraton. Penataan tata ruang keraton, termasuk pula pola dasar landscape kota tua Yogyakarta, nama-nama yang dipergunakan, bentuk arsitektur dan arah hadap bangunan, benda-benda tertentu dan lain sebagainya masing-masing memiliki nilai filosofi dan/atau mitologinya sendiri-sendiri.

Tata ruang dasar kota tua Yogyakarta berporoskan garis lurus Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak serta diapit oleh S. Winongo di sisi barat dan S. Code di sisi timur. Jalan P. Mangkubumi (dulu Margotomo), jalan Malioboro (dulu Maliyoboro), dan jalan Jend. A. Yani (dulu Margomulyo) merupakan sebuah boulevard lurus dari Tugu menuju Keraton. Jalan D.I. Panjaitan (dulu Ngadinegaran merupakan sebuah jalan yang lurus keluar dari Keraton melalui Plengkung Nirboyo menuju Panggung Krapyak. Pengamatan citra satelit memperlihatkan Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak berikut jalan yang menghubungkannya tersebut hampir segaris (hanya meleset beberapa derajat). Tata ruang tersebut mengandung makna “sangkan paraning dumadi” yaitu asal mula manusia dan tujuan asasi terakhirnya.

Pintu Gerbang Donopratopo berarti “seseorang yang baik selalu memberikan kepada orang lain dengan sukarela dan mampu menghilangkan hawa nafsu”. Dua patung raksasa Dwarapala yang terdapat di samping gerbang, yang satu, Balabuta, menggambarkan kejahatan dan yang lain, Cinkarabala, menggambarkan kebaikan. Hal ini berarti “Anda harus dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang jahat”.

Beberapa pohon yang ada di halaman kompleks keraton juga mengandung makna tertentu. Pohon beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) di Alun-alun utara berjumlah 64 (atau 63) yang melambangkan usia Nabi Muhammad. Dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara menjadi lambang makrokosmos (K. Dewodaru, dewo=Tuhan) dan mikrokosmos (K. Janadaru, jana=manusia). Selain itu ada yang mengartikan Dewodaru adalah persatuan antara Sultan dan Pencipta sedangkan Janadaru adalah lambang persatuan Sultan dengan rakyatnya. Pohon gayam (Inocarpus edulis/Inocarpus fagiferus; famili Papilionaceae)bermakna “ayem” (damai,tenang,bahagia) maupun “gayuh” (cita-cita). Pohon sawo kecik (Manilkara kauki; famili Sapotaceae) bermakna “sarwo becik” (keadaan serba baik, penuh kebaikan).

Benda-benda pusaka keraton juga dipercaya memiliki daya magis untuk menolak bala/kejahatan. Konon bendera KK Tunggul Wulung, sebuah bendera yang konon berasal dari kain penutup kabah di Makkah (kiswah), dipercaya dapat menghilangkan wabah penyakit yang pernah menjangkiti masyarakat Yogyakarta. Bendera tersebut dibawa dalam suatu perarakan mengelilingi benteng baluwerti. Konon peristiwa terakhir terjadi di tahun 1947. Dipercayai pula oleh sebagian masyarakat bahwa Kyai Jegot, roh penunggu hutan Beringan tempat keraton Yogyakarta didirikan, berdiam di salah satu tiang utama di nDalem Ageng Prabayaksa. Roh ini dipercaya menjaga ketentraman kerajaan dari gangguan.

2.      Denah dan Fungsi

Arsitek kepala istana ini adalah Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda – Dr. Pigeund dan Dr. Adam yang menganggapnya sebagai “arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta” Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta tahun 19211939 Koridor di Kedhaton dengan latar belakang Gedhong Jene dan Gedhong Purworetno.

Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung Nirboyo di selatan. Bagian-bagian utama keraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.

Bagian-bagian sebelah utara Kedhaton dengan sebelah selatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar bagunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah utara dan di sebelah selatan Kompleks Kedhaton menghadap ke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan kebanyakan menghadap timur atau barat. Namun demikian ada bangunan yang menghadap ke arah yang lain.

Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk/berkonstruksi Joglo atau derivasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.

Untuk batu alas tiang, Ompak, berwarna hitam dipadu dengan ornamen berwarna emas. Warna putih mendominasi dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks. Lantai biasanya terbuat dari batu pualam putih atau dari ubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari halaman berpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utama yang lebih tinggi. Pada bangunan tertentu dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.

Tiap-tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya. Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakan oleh Sultan dalam kapasitas jabatannya, memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan dengan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunan maka ornamen semakin sederhana bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas bangunan juga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau keseluruhan dari bangunan itu sendiri.

a.      Kompleks depan

1)      Gladhag-Pangurakan

Gerbang utama untuk masuk ke dalam kompleks Keraton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Gladhag dan Gapura Pangurakanyang terletak persis beberapa meter di sebelah selatannya. Kedua gerbang ini tampak seperti pertahanan yang berlapis. Pada zamannya konon Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatu daftar jaga atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman pengasingan/pembuangan.

2)      Alun-alun Lor

Tanah lapang, “Alun-alun Lor”, di bagian utara kraton Yogyakarta dengan pohon Ringin Kurung-nya

Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum.

Pada zaman dahulu Alun-alun Lor digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak. Di antaranya adalah upacara garebeg serta sekaten, acara watangan serta rampogan macan, pisowanan ageng, dan sebagainya. Sekarang tempat ini sering digunakan untuk berbagai acara yang juga melibatkan masyarakat seperti konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat penyelenggaraan ibadah hari raya Islam sampai juga digunakan untuk sepak bola warga sekitar dan tempat parkir kendaraan.

b.      Kompleks inti

1)      Kompleks Pagelaran

Bangunan utama adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu dikenal dengan nama Tratag Rambat. Pada zamannya Pagelaran merupakan tempat para punggawa kesultanan menghadap Sultan pada upacara resmi. Sekarang sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Sepasang Bangsal Pemandengan terletak di sisi jauh sebelah timur dan barat Pagelaran. Dahulu tempat ini digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan latihan perang di Alun-alun Lor.

Sepasang Bangsal Pasewakan/Pengapit terletak tepat di sisi luar sayap timur dan barat Pagelaran. Dahulu digunakan para panglima Kesultanan menerima perintah dari Sultan atau menunggu giliran melapor kepada beliau kemudian juga digunakan sebagai tempat jaga Bupati Anom Jaba. Sekarang digunakan untuk kepentingan pariwisata (semacam diorama yang menggambarkan prosesi adat, prajurit keraton dan lainnya). Bangsal Pengrawit yang terletak di dalam sayap timur bagian selatan Tratag Pagelaran dahulu digunakan oleh Sultan untuk melantik Pepatih Dalem. Saat ini di sisi selatan kompleks ini dihiasi dengan relief perjuangan Sultan HB I dan Sultan HB IX. Kompleks Pagelaran ini pernah digunakan oleh Universitas Gadjah Mada sebelum memiliki kampus di Bulak Sumur.

2)      Siti Hinggil Ler

Di selatan kompleks Pagelaran terdapat Kompleks Siti Hinggil. Kompleks Siti Hinggil secara tradisi digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara resmi kerajaan. Di tempat ini pada 19 Desember 1949 digunakan peresmian Univ. Gadjah Mada. Kompleks ini dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya dengan dua jenjang untuk naik berada di sisi utara dan selatan. Di antara Pagelaran dan Siti Hinggil ditanami deretan pohon Gayam (Inocarpus edulis/Inocarpus fagiferus; famili Papilionaceae).

Bale Bang yang terletak di sebelah timur Tratag Siti Hinggil pada zaman dahulu digunakan untuk menyimpan perangkat Gamelan Sekati, KK Guntur Madu dan KK Naga Wilaga. Bale Angun-angun yang terletak di sebelah barat Tratag Siti Hinggil pada zamannya merupakan tempat menyimpan tombak, KK Suro Angun-angun

3)      Kedhaton

Pintu Gerbang Donopratopo, Kraton Yogyakarta. Di sisi selatan kompleks Sri Manganti berdiri Regol Donopratopo yang menghubungkan dengan kompleks Kedhaton. Di muka gerbang terdapat sepasang arca raksasa Dwarapala yang dinamakan Cinkorobolo disebelah timur dan Bolobuto di sebelah barat. Di sisi timur terdapat pos penjagaan. Pada dinding penyekat sebelah selatan tergantung lambang kerajaan, Praja Cihna.

Kompleks kedhaton merupakan inti dari Keraton seluruhnya. Halamannya kebanyakan dirindangi oleh pohon Sawo kecik (Manilkara kauki; famili Sapotaceae). Kompleks ini setidaknya dapat dibagi menjadi tiga bagian halaman (quarter). Bagian pertama adalah Pelataran Kedhaton dan merupakan bagian Sultan. Bagian selanjutnya adalah Keputren yang merupakan bagian istri (para istri) dan para puteri Sultan. Bagian terakhir adalah Kesatriyan, merupakan bagian putra-putra Sultan. Di kompleks ini tidak semua bangunan maupun bagiannya terbuka untuk umum, terutama dari bangsal Kencono ke arah barat.

Keputren merupakan tempat tinggal Permaisuri dan Selir raja. Di tempat yang memiliki tempat khusus untuk beribadat pada zamannya tinggal para puteri raja yang belum menikah. Tempat ini merupakan kawasan tertutup sejak pertama kali didirikan hingga sekarang. Kesatriyan pada zamannya digunakan sebagai tempat tinggal para putera raja yang belum menikah. Bangunan utamanya adalah Pendapa Kesatriyan, Gedhong Pringgandani, dan Gedhong Srikaton. Bagian Kesatriyan ini sekarang dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan even pariwisata. Di antara Plataran Kedhaton dan Kesatriyan dahulu merupakan istal kuda yang dikendarai oleh Sultan.

4)      Kamagangan

Di sisi selatan kompleks Kedhaton terdapat Regol Kamagangan yang menghubungkan kompleks Kedhaton dengan kompleks Kemagangan. Gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama.

Dahulu kompleks Kemagangan digunakan untuk penerimaan calon pegawai (abdi-Dalem Magang), tempat berlatih dan ujian serta apel kesetiaan para abdi-Dalem magang. Bangsal Magangan yang terletak di tengah halaman besar digunakan sebagai tempat upacara Bedhol Songsong, pertunjukan wayang kulit yang menandai selesainya seluruh prosesi ritual di Keraton. Bangunan Pawon Ageng (dapur istana) Sekul Langgen berada di sisi timur dan Pawon Ageng Gebulen berada di sisi barat. Kedua nama tersebut mengacu pada jenis masakan nasi Langgi dan nasi Gebuli. Di sudut tenggara dan barat daya terdapat Panti Pareden. Kedua tempat ini digunakan untuk membuat Pareden/Gunungan pada saat menjelang Upacara Garebeg. Di sisi timur dan barat terdapat gapura yang masing-masing merupakan pintu ke jalan Suryoputran dan jalan Magangan.

5)      Kamandhungan Kidul

Di ujung selatan jalan kecil di selatan kompleks Kamagangan terdapat sebuah gerbang, Regol Gadhung Mlati, yang menghubungkan kompleks Kamagangan dengan kompleks Kamandhungan Kidul/selatan. Dinding penyekat gerbang ini memiliki ornamen yang sama dengan dinding penyekat gerbang Kamagangan. Di kompleks Kamandhungan Kidul terdapat bangunan utama Bangsal Kamandhungan. Bangsal ini konon berasal dari pendapa desa Pandak Karang Nangka di daerah Sokawati yang pernah menjadi tempat Sri Sultan Hamengkubuwono I bermarkas saat perang tahta III. Di sisi selatan Kamandhungan Kidul terdapat sebuah gerbang, Regol Kamandhungan, yang menjadi pintu paling selatan dari kompleks cepuri. Di antara kompleks Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul terdapat jalan yang disebut dengan Pamengkang.

6)      Siti Hinggil Kidul

Arti dari Siti Hinggil yaitu tanah yang tinggi, siti : tanah dan hinggil : tinggi. Siti Hinggil Kidul atau yang sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad terletak di sebelah utara alun-alun Kidul. Luas kompleks Siti Hinggil Kidul kurang lebih 500 meter persegi. Permukaan tanah pada bangunan ini ditinggikan sekitar 150 cm dari permukaan tanah di sekitarnya. Sisi timur-utara-barat dari kompleks ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Pamengkang, tempat orang berlalu lalang setiap hari. Dahulu di tengah Siti Hinggil terdapat pendapa sederhana yang kemudian dipugar pada 1956 menjadi sebuah Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad sebagai tanda peringatan 200 tahun kota Yogyakarta.

Siti Hinggil Kidul digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk menyaksikan para prajurit keraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan, Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, dan sebagainya.

c.       Kompleks belakang

1)      Alun-alun Kidul

Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang). Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga (Mangifera indica; famili Anacardiaceae), pakel (Mangifera sp; famili Anacardiaceae), dan kuini (Mangifera odoranta; famili Anacardiaceae).

2)      Plengkung Nirbaya

Plengkung Nirbaya merupakan ujung selatan poros utama keraton. Dari tempat ini Sultan HB I masuk ke Keraton Yogyakarta pada saat perpindahan pusat pemerintahan dari Kedhaton Ambar Ketawang. Gerbang ini secara tradisi digunakan sebagai rute keluar untuk prosesi panjang pemakaman Sultan ke Imogiri. Untuk alasan inilah tempat ini kemudian menjadi tertutup bagi Sultan yang sedang bertahta.

d.      Bagian lain Keraton

1)      Pracimosono

Kompleks Pracimosono merupakan bagian keraton yang diperuntukkan bagi para prajurit keraton. Sebelum bertugas dalam upacara adat para prajurit keraton tersebut mempersiapkan diri di tempat ini. Kompleks yang tertutup untuk umum ini terletak di sebelah barat Pagelaran dan Siti Hinggil Lor.[60]

2)      Roto Wijayan

Kompleks Roto Wijayan merupakan bagian keraton untuk menyimpan dan memelihara kereta kuda. Tempat ini mungkin dapat disebut sebagai garasi istana. Sekarang kompleks Roto Wijayan menjadi Museum Kereta Keraton. Di kompleks ini masih disimpan berbagai kereta kerajaan yang dahulu digunakan sebagai kendaraan resmi. Beberapa diantaranya ialah KNy Jimat, KK Garuda Yaksa, dan Kyai Rata Pralaya. Tempat ini dapat dikunjungi oleh wisatawan.

e.       Kawasan tertutup

Kompleks Tamanan merupakan kompleks taman yang berada di barat laut kompleks Kedhaton tempat dimana keluarga kerajaan dan tamu kerajaan berjalan-jalan. Kompleks ini tertutup untuk umum. Kompleks Panepen merupakan sebuah masjid yang digunakan oleh Sultan dan keluarga kerajaan sebagai tempat melaksanakan ibadah sehari-hari dan tempat Nenepi (sejenis meditasi). Tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat akad nikah bagi keluarga Sultan. Lokasi ini tertutup untuk umum. Kompleks Kraton Kilen dibangun semasa Sultan HB VII. Lokasi yang berada di sebelah barat Keputren menjadi tempat kediaman resmi Sultan HB X dan keluarganya. Lokasi ini tertutup untuk umum.

1)      Taman Sari

Kolam Pemandian Umbul Binangun, Taman Sari, Kraton Yogyakarta

Kompleks Taman Sari merupakan peninggalan Sultan HB I. Taman Sari (Fragrant Garden) berarti taman yang indah, yang pada zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi sultan beserta kerabat istana. Di kompleks ini terdapat tempat yang masih dianggap sakral di lingkungan Taman Sari, yakni Pasareyan Ledoksari tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Bangunan yang menarik adalah Sumur Gumuling yang berupa bangunan bertingkat dua dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bila sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh. Sekarang kompleks Taman Sari hanya tersisa sedikit saja.

 

 

2)      Kadipaten

Kompleks Dalem Mangkubumen merupakan Istana Putra Mahkota atau dikenal dengan nama Kadipaten (berasal dari gelar Putra Mahkota: “Pangeran Adipati Anom”. Tempat ini terletak di Kampung Kadipaten sebelah barat laut Taman Sari dan Pasar Ngasem. Sekarang kompleks ini digunakan sebagai kampus Univ Widya Mataram. Sebelum menempati nDalem Mangkubumen, Istana Putra Mahkota berada di Sawojajar, sebelah selatan Gerbang Lengkung/Plengkung Tarunasura (Wijilan). Sisa-sisa yang ada antara lain berupa Masjid Selo yang dulu berada di Sawojajar.

3)      Benteng Baluwerti

Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta merupakan sebuah dinding yang melingkungi kawasan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya. Dinding ini didirikan atas prakarsa Sultan HB II ketika masih menjadi putra mahkota di tahun 17851787. Bangunan ini kemudian diperkuat lagi sekitar 1809 ketika beliau telah menjabat sebagai Sultan. Benteng ini memiliki ketebalan sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 3-4 meter. Untuk masuk ke dalam area benteng tersedia lima buah pintu gerbang lengkung yang disebut dengan Plengkung, dua diantaranya hingga kini masih dapat disaksikan. Sebagai pertahanan di keempat sudutnya didirikan bastion, tiga diantaranya masih dapat dilihat hingga kini.

f.       Warisan budaya

Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Yogyakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka (heirloom). Upacara adat yang terkenal adalah upacara Tumplak Wajik, Garebeg, upacara Sekaten dan upacara Siraman Pusaka dan Labuhan. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi dari klaim pihak asing.

1.       Tumplak Wajik

Upacara tumplak wajik adalah upacara pembuatan Wajik (makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa) untuk mengawali pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg.

2.      Garebeg

Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ke-3), tanggal satu bulan Sawal (bulan ke-10) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan ke-12). Pada hari-hari tersebut Sultan berkenan mengeluarkan sedekahnya kepada rakyat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.

3.      Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam,

4.      Upacara Siraman/Jamasan Pusaka dan Labuhan

Dalam bulan pertama kalender Jawa, Suro, Keraton Yogyakarta memiliki upacara tradisi khas yaitu Upacara Siraman/Jamasan Pusaka dan Labuhan. Siraman/Jamasan Pusaka adalah upacara yang dilakukan dalam rangka membersihkan maupun merawat Pusaka Kerajaan (Royal Heirlooms) yang dimiliki. Upacara ini di selenggarakan di empat tempat. Lokasi pertama adalah di Kompleks Kedhaton (nDalem Ageng Prabayaksa dan bangsal Manis). Upacara di lokasi ini yaitu Upacara Siraman/Jamasan Pusaka dan Labuhan.

Lokasi kedua dan ketiga berturut turut di kompleks Roto Wijayan dan Alun-alun. Di Roto Wijayan yang dibersihkan/dirawat adalah kereta-kereta kuda. Kangjeng Nyai Jimat, kereta resmi kerajaan pada zaman Sultan HB I-IV, selalu dibersihkan setiap tahun. Kereta kuda lainnya dibersihkan secara bergilir untuk mendampingi (dalam setahun hanya satu kereta yang mendapat jatah giliran). Di Alun-alun dilakukan pemangkasan dan perapian ranting dan daun Waringin Sengker yang berada ditengah-tengah lapangan. Lokasi terakhir adalah di pemakaman raja-raja di Imogiri. Di tempat ini dibersihkan dua bejana yaitu Kyai Danumaya dan Danumurti. Di lokasi kedua, ketiga, dan keempat masyarakat umum dapat menyaksikan prosesi upacaranya.

Labuhan adalah upacara sedekah yang dilakukan setidaknya di dua tempat yaitu Pantai Parang Kusumo dan Lereng Gunung Merapi. Di kedua tempat itu benda-benda milik Sultan seperti nyamping (kain batik), rasukan (pakaian) dan sebagainya di-larung (harfiah=dihanyutkan). Upacara Labuhan di lereng Gunung Merapi (Kabupaten Sleman) dipimpin oleh Juru Kunci Gunung Merapi (sekarang Januari 2008 dijabat oleh Mas Ngabehi Suraksa Harga atau yang lebih dikenal dengan Mbah Marijan) sedangkan di Pantai Parang Kusumo Kabupaten Bantul dipimpin oleh Juru Kunci Cepuri Parang Kusumo. Benda-benda tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat tertutup untuk umum dan hanya diikuti oleh keluarga kerajaan.

 

 

5.      Pusaka kerajaan

Pusaka di Keraton Yogyakarta disebut sebagai Kagungan Dalem (harfiah=milik Raja) yang dianggap memiliki kekuatan magis atau peninggalan keramat yang diwarisi dari generasi-generasi awal. Kekuatan dan kekeramatan dari pusaka memiliki hubungan dengan asal usulnya, keadaan masa lalu dari pemilik sebelumnya atau dari perannya dalam kejadian bersejarah.

Benda-benda pusaka keraton memiliki nama tertentu. Sebagai contoh adalah Kyai Permili, sebuah kereta kuda yang digunakan untuk mengangkut abdi-Dalem Manggung yang membawa Regalia. Selain nama pusaka tersebut mempunyai gelar dan kedudukan tertentu, tergantung jauh atau dekatnya hubungan dengan Sultan. Seluruh pusaka yang menjadi inventaris Sultan (Sultan’s property) dalam jabatannya diberi gelar Kyai (K) jika bersifat maskulin atau Nyai (Ny) jika bersifat feminin, misalnya K Danumaya sebuah guci tembikar, yang konon berasal dari Palembang, yang berada di Pemakaman Raja-raja di Imogiri.

Wujud benda pusaka di Keraton Yogyakarta bermacam-macam. Benda-benda tersebut dapat dikelompokkan menjadi: (1) Senjata tajam; (2) Bendera dan Panji kebesaran; (3) Perlengkapan Kebesaran; (4) Alat-alat musik; (5) Alat-alat transportasi; (6) Manuskrip, babad (kronik) berbagai karya tulis lain; (7) Perlengkapan sehari-hari; dan (8) Lain-lain. Pusaka dalam bentuk senjata tajam dapat berupa tombak (KK Gadatapan dan KK Gadawedana, pendamping KKA Pleret); keris (KKA Kopek); Wedhung, (KK Pengarab-arab, untuk eksekusi mati narapidana dengan pemenggalan kepala) ataupun pedang (KK Mangunoneng, pedang yang digunakan untuk memenggal seorang pemberontak, Tumenggung Mangunoneng).

6.      Regalia

Regalia merupakan pusaka yang menyimbolkan karakter Sultan Yogyakarta dalam memimpin negara berikut rakyatnya. Regalia yang dimiliki oleh terdiri dari berbagai benda yang memiliki makna tersendiri yang kesemuanya secara bersama-sama disebut KK Upocoro. Macam benda dan dan maknanya sebagai berikut:

1.   Banyak (berwujud angsa) menyimbolkan kelurusan, kejujuran, serta kesiap siagaan serta ketajaman;

2.   Dhalang (berwujud kijang) menyimbolkan kecerdasan dan ketangkasan;

3.   Sawung (berwujud ayam jantan) menyimbolkan kejantanan dan rasa tanggung jawab;

4.   Galing (berwujud burung merak jantan) menyimbolkan kemuliaan, keagungan, dan keindahan;

5.   Hardawalika (berwujud raja ular naga) menyimbolkan kekuatan;

6.   Kutuk (berwujud kotak uang) menyimbolkan kemurahan hati dan kedermawanan;

7.   Kacu Mas (berwujud tempat saputangan emas) menyimbolkan kesucian dan kemurnian;

8.   Kandhil (berwujud lentera minyak) menyimbolkan penerangan dan pencerahan; dan

9.   Cepuri (berwujud nampan sirih pinang), Wadhah Ses (berwujud kotak rokok), dan Kecohan (berwujud tempat meludah sirih pinang) menyimbolkan proses membuat keputusan/kebijakan negara.

KK Upocoro selalu ditempatkan di belakang Sultan saat upacara resmi kenegaraan (state ceremony) dilangsungkan. Pusaka ini dibawa oleh sekelompok gadis remaja yang disebut dengan abdi-Dalem Manggung.

7.      Lambang kebesaran

KK Ampilan sebenarnya merupakan satu set benda-benda penanda martabat Sultan. Benda-benda tersebut adalah Dampar Kencana (singgasana emas) berikut Pancadan/Amparan (tempat tumpuan kaki Sultan di muka singgasana) dan Dampar Cepuri (untuk meletakkan seperangkat sirih pinang di sebelah kanan singgasana Sultan); Panah (anak panah); Gendhewa (busur panah); Pedang; Tameng (perisai); Elar Badhak (kipas dari bulu merak); KK Alquran (manuskrip Kitab Suci tulisan tangan); Sajadah (karpet/tikar ibadah); Songsong (payung kebesaran); dan beberapa Tombak. KK Ampilan ini selalu berada di sekitar Sultan saat upacara resmi kerajaan (royal ceremony) diselenggarakan. Berbeda dengan KK Upocoro, pusaka KK Ampilan dibawa oleh sekelompok ibu-ibu/nenek-nenek yang sudah menopause.

8.      Gamelan

Gamelan merupakan seperangkat ansambel tradisional Jawa. Orkestra ini memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem skala slendro dan sistem skala pelog. Keraton Yogyakarta memiliki sekitar 18-19 set ansambel gamelan pusaka, 16 diantaranya digunakan sedangkan sisanya (KK Bremara dan KK Panji) dalam kondisi yang kurang baik. Setiap gamelan memiliki nama kehormatan sebagaimana sepantasnya pusaka yang sakral. Tiga buah gamelan dari berasal dari zaman sebelum Perjanjian Giyanti dan lima belas sisanya berasal dari zaman Kesultanan Yogyakarta. Tiga gamelan tersebut adalah gamelan monggang yang bernama KK Guntur Laut, gamelan kodhok ngorek yang bernama KK Maeso Ganggang, dan gamelan sekati yang bernama KK Guntur Madu. Ketiganya merupakan gamelan terkeramat dan hanya dimainkan/dibunyikan pada even-even tertentu saja.

9.      Kereta kuda pilihan

Pada zamannya kereta kuda merupakan alat transportasi penting bagi masyarakat tak terkecuali Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta memiliki bermacam kereta kuda mulai dari kereta untuk bersantai dalam acara non formal sampai kereta kebesaran yang digunakan secara resmi oleh raja. Kereta kebesaran tersebut sebanding dengan mobil berplat nopol Indonesia 1 atau Indonesia 2 (mobil resmi presiden dan wakil presiden Indonesia). Kebanyakan kereta kuda adalah buatan Eropa terutama Negeri Belanda walaupun ada beberapa yang dibuat di Roto Wijayan (misal KK Jetayu).

10.  Tanda jabatan

Beberapa pusaka, khususnya keris, juga digunakan sebagai penanda/simbol jabatan orang yang memakainya. Sebagai contoh adalah keris KKA Kopek. Keris utama Keraton Yogyakarta ini merupakan keris yang hanya diperkenankan untuk dipakai Sultan yang sedang bertahta yang melambangkan martabatnyanya sebagai pemimpin spiritual sebagaimana beliau menjadi kepala kerajaan. oleh Sultan sendiri. Keris KK Joko Piturun merupakan keris yang dipinjamkan oleh Sultan kepada Pangeran Adipati Anom, Putra Mahkota Kerajaan, sebagai tanda jabatannya. Keris KK Toyatinaban merupakan keris yang dipinjamkan oleh Sultan kepada Gusti Pangeran Harya Hangabehi, putra tertua Sultan, sebagai lambang kedudukannya selaku Kepala Parentah Hageng Karaton (Lembaga Istana). Keris KK Purboniyat merupakan keris yang dipinjamkan oleh Sultan kepada Kangjeng Pangeran (h)Adipati (h)Aryo Danurejo, sebagai simbol jabatannya sebagai Pepatih Dalem.

3.      Tema Budaya/Makna Sosial, Budaya dan Religius

Dilihat dari tema religi, Tugu melambangkan penjelmaan lingga dan panggung krapyak sebagai penjelmaan yoni sedangkan keraton Yogyakarta merupakan pelambangan lingga dan yoni sebagai sumber dari segala sumber kehidupan (sangkan paraning dumadi), apabila disimak dari sudut  budaya keraton Yogyakarta merupakan sistem pemerintahan kerajaan secara turun temurun yang masih berlaku sampai sekarang. Kemudian dari tema sosial keraton adalah salah satu objek wisata yang digunakan sebagai sarana rekreasi dan penelitian untuk pelajar.

F.     Obyek Wisata Candi Ceto

1.      Sejarah Singkat

Gunung Lawu memiliki arti penting bagi umat Hindu di Nusantara, terutama masyarakat Jawa Tengha. Selain karena masih menyimpan peninggalan candi Hindu, gunung yang menjulang di wilayah Karanganyar dan Magetan ini diyakini sebagai tempat moksa Raja Majapahit, Brawijaya V. Salah satu jejak Hindu di lereng Gunung Lawu ini adalah Candi Ceto di ketinggian 1.400 meter dpl.

Candi Ceto berada tidak jauh dari komplek Candi Sukuh, tepatnya berada di Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini tentu saja merupakan bentuk peninggalan budaya Majapahit. Di candi ini pula jejak jekayaan kerjaan tebesar di Nusantara tersebut, seperti arca-arca yang bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, kemudian arca Sabda Palon, tokoh spritual Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang berda di halaman depan candi. Ada pula patung Dewi Saraswati yang merupakan simbol kebijaksanaan yang berhiaskan peralatan sembahyang. Bahkan cerita yang berkembang di masyarakat Karanganyar dan sekitarnya, Raja Majapahit, Prabhu Brawijaya V, sebelum moksa terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai mensucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto. Ini memang sebuah kisah lama yang hingga kini tetap tersimpan dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat sekitar candi.

2.      Denah dan Fungsi Candi Ceto

Candi Ceto terbagi ke dalam tiga halaman, mengikuti konsep tri mandala (hulu, tengah, dan hilir), dengan duabelas teras. Masing-masing teras ditandai dengan ciri-ciri khusus, seperti arca dan relief ajaran Hindu. Halaman pertama yang lokasinya di bawah, ditandai dengan dua gapura yang menjulang. Pada halaman pertama ini bisa ditemukan dua arca laki-laki yang sedang duduk bersimpuh menghadap ke arah barat, serta satu arca perempuan duduk bersimpuh menghadap ke timur dan keduanya diyakini sebagai penjaga Candi Ceto. Teras berikutnya, setelah melewati undak-undakan dan gapura, adalah halaman tengah. Di bagian ini terdapat arca laki-laki.

Seanjutnya adalah teras ketiga. Di tempat ini ada bangunan gapura (candi bentar), seperti rumah suci yang kerap kita jumpai di Bali. Di teras empat juga masih kita dapati arca laki-laki. Untuk menuju teras lima, mesti melewati tangga masuk dua buah undakan, dengan punden berundak di sebelah utara (kiri). Bangunan ini ditutupi sebuah bangunan kayu beratapkan ijuk. Masyarakat turunan Gunung Lawu menyebut punden berundak ini sebagai Krincing Wesi, dan diyakini sebagai penunggu kawasan Ceto. Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Ritual yang sesajiannya berupa nasi tumpeng, buah, bunga, air, dan dupa. Ritual ini merupakan upacara ungkapan terima kasih warga Desa Ceto dan sekitarnya, karena Kerincing Wesi menjaga dan memberi perlindungan serta keselamatan bagi kawasan Ceto.

Teras enam tak menyisakan peninggalan arkeologi. Memasuki teras ketujuh, pada bagian selatan gapura terdapat tulisan “peling pedamel irikang bu, ku tirta sunya hawaki, ray a hilang, saka kalanya wiku, goh anahut iku 1397, yang artinya “peringatan pembuatan buku tirta sunya badannya hilang tahun 1397 Saka”. Jika berpijak pada angka tahun yang tertera pada teras ketujuh tersebut, berarti pada tahun 1397 saka atau pada tahun 1475 Masehi atau pada abad ke-15, Candi Ceto telah berdiri kokoh.

Masih di pintu gerbang teras tujuh, pada pintu masuk gapura, di kanan kirinya terdapat arca manusia menghadap ke timur. Sedangkan di halaman tengah terdapat phallus vulva (lingga-yoni) yang dihiasi pahatan cicak, ular, katak, kadal, mimi, ketam, dan belut. Jika dilihat dari konsep ajaran Hindu, simbol ini merupakan wujud penyatuan unsur laki dan perempuan, lambang lingga-yoni sekaligus sebagai simbol kesuburan. Sedangkan dari sudut pandang megalitik, simbol phallus vulva sebagai wahana pemujaan terhadap arwah nenek moyang, roh leluhur yang diistanakan di gunung. Di sebelah timurnya ada tiga buah lingkaran sinar, yang di bagian bawahnya terdapat arca kura-kura di atas burung garuda yang sedang mengembangkan sayapnya. Pada sisi kiri dan kanan arca terdapat tumpukan batu dan di sebelah timurnya terdapat arca laki-laki sedang duduk menghadap ke barat. Di areal ini ada pula arca manusia berdiri menghadap barat, menggambarkan Dwarapala.

Tentu saja patung palus raksasa ini sama sekali tidak bermaksud porno. Simbol ini, menurut Soe Tjen Marching (1997), lebih untuk melambangkan keseimbangan alam dan harmoni. Selama ini memang Candi Ceto telah lama dirujuk bagaimana sensualitas menjadi bagian sejarah panjang budaya Nusantara.

Menginjak teras ke delapan, bagian ini dilengkapi rilief kisah Adiparwa serta relief kisah Sudamala serta dua arca Dwarapala. Di teras sembilan dan sepuluh dilengkapi pendapa. Pada teras sebelas, selain pendapa, juga ditemukan arca Nayagenggong, yang memiliki kaitan erat dengan kisah Sabda Palon. Sedangkan arca Sabda Palon sendiri ditemukan pada teras duabelas. Di halaman paling atas, yang ditandai dengan gapura masuk dan terdapat bangunan piramida terpancung atau lebih dikenal dengan sebutan trapezium. Jika diteliti lebih mendalam, makna simbolik pahatan-pahatan yang tergambarkan di Candi Ceto itu merupakan simbol kesuburan, mohon kesuburan dan kesejahteraan.

Di sepanjang undakan ada berbagai relief sensualitas memesona mata. Ada pula gambar kura-kura yang melambang Dewa Wisnu. Jalan ke atas yang awalnya lebar makin lama makin menyempit. Menurut cerita, ini sebagai penggambaran bahwa jalan menuju nirwana atau surga makin lama makin kecil. Begitu sampai di puncak, kita disuguhi bangunan kubus seperti trapesium. Di sinilah orang banyak melakukan ritual semedi

3.      Tema Budaya/Makna Sosial, Budaya dan Religius

Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak yang sarat dengan makna sosial budaya dan religius. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincing Wesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.

Pada aras ketiga terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern.

Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada dua dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudhamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Jawa sebagai dasar upacara ruwatan. Dua aras berikutnya memuat bangunan-bangunan pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan. Pada aras ketujuh dapat ditemui dua arca di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan Nayagenggong, dua tokoh setengah mitos (banyak yang menganggap sebetulnya keduanya adalah satu orang) yang diyakini sebagai abdi dan penasehat spiritual Sang Prabu Brawijaya V.

Pada aras kedelapan terdapat arca phallus (disebut “kuntobimo”) di sisi utara dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Pemujaan terhadap arca phallus melambangkan ungkapan syukur dan pengharapan atas kesuburan yang melimpah atas bumi setempat. Aras terakhir (kesembilan) adalah aras tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa. Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.

Di sebelah atas bangunan Candi Cetho terdapat sebuah bangunan yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat membersihkan diri sebelum melaksanakan upacara ritual peribadahan (patirtan). Di dekat bangunan candi, dengan menuruni lereng yang terjal, ditemukan lagi sebuah kompleks bangunan candi yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Kethek (“Candi Kera”).

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

1. Sejarah

a.      Pura Agung Blambangan

Pura Agung Blambangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kerajaan Blambangan yang bercorak Hindu di Banyuwangi itu. Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah taklukan Bali. Kerajaan Mengwi pernah menguasai wilayah ini sehingga bisa kita temukan di Pura Agung Blambangan yaitu pelinggih yang merupakan sthana dari Raja Mengwi.

b.      Pura Mandara Giri

Keinginan pemeluk Hindu di Lumajang dan sekitarnya untuk membuat pura sesungguhnya telah muncul sejak tahun 1969. Keinginan ini tampak bersambut dengan keinginan sejumlah tokoh Hindu di Bali, terutama sejak diadakan nuur tirta (memohon air suci) dari Bali langsung ke Patirtaaan Watu Kelosot, di kaki Gunung Semeru, berkaitan dengan diaturkan upacara agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, di lambung Gunung Agung, Bali, Maret 1963. Sejak itulah dimulai tradisi rutin nuur tirta di Besakih dan pura kahyangan jagat lain di Bali dihaturkan upacara berskala besar.

c.       Candi Prambanan

Candi prambanan adalah kompleks percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja dinasti Sanjaya pada abad IX. Dengan di temukan tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pitaka yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka tahun 856M “Prasasti Sieargha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukan sebagai raja yang besar.

d.      Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.

Menurut Poerbaejaraka (dalam Madhori:2002) arti nama Borobudur yaitu “biara di perbukitan”, yang berasal dari kata “bara” (candi atau biara) dan “beduhur” (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha. Dan penafsiran ini paling mendekati kebenaran berdasarkan bukti-bukti yang ada.

e.       Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755.

Keraton Yogyakarta atau dalam bahasa aslinya Karaton Kasultanan Ngayogyakarta merupakan tempat tinggal resmi para Sultan yang bertahta di Kesultanan Yogyakarta. Karaton artinya tempat dimana “Ratu” (bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja) bersemayam. Dalam kata lain Keraton/Karaton (bentuk singkat dari Ke-ratu-an/Ka-ratu-an) merupakan tempat kediaman resmi/Istana para Raja. Artinya yang sama juga ditunjukkan dengan kata Kedaton. Kata Kedaton (bentuk singkat dari Ke-datu-an/Ka-datu-an) berasal dari kata “Datu” yang dalam bahasa Indonesia berarti Raja. Dalam pembelajaran tentang budaya Jawa, arti ini mempunyai arti filosofis yang sangat dalam.

f.       Candi Ceto

Candi Ceto merupakan bentuk peninggalan budaya Majapahit. Di candi ini pula jejak jekayaan kerjaan tebesar di Nusantara tersebut, seperti arca-arca yang bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, kemudian arca Sabda Palon, tokoh spritual Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang berda di halaman depan candi. Sebelum moksa, Raja Brawijaya V terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai mensucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto.

2. Denah serta fungsi masing –masing obyek kunjungan

Pura Agung Blambangan memiliki konsep Tri Mandala yaitu nista mandala (bagian luar), madya mandala (bagian tengah) dan utama mandala (bagian dalam).

Bangunan fisik Pura Mandara Giri Semeru Agung sudah dilengkapi dengan candi bentar (apit surang) di jaba sisi, dan candi kurung (gelungkuri) di jaba tengah. Di areal ini dibangun bale patok, bale gong, gedong simpen, dan bale kulkul. Ada juga pendopo, suci sebagai dapur khusus dan bale patandingan. Di jeroan, areal utama, ada pangapit lawang, bale ongkara, bale pasanekan, bale gajah, bale agung, bale paselang, anglurah, tajuk, dan padmanabha sebagai bangunan suci utama dan sentral.

Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha.

Candi pambanan terletak 13 Km dari kota Klaten, menuju barat pada jalur jalan ke Yogyakarta dan 17 Km dari Yogya menuju timur pada jalur jalan ke kota Klaten/Surakarta, Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang adalah candi Hindu terbesar di Jawa Tengah. Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.

Bagian utama istana keraton, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung Nirboyo di selatan. Bagian-bagian utama keraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kompleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, Kompleks Kamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; Kompleks Kedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kamandhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing.

Pada aras ketiga Candi Ceto terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit (diduga sebagai lambang Majapahit), dan simbol phallus (penis, alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern

Fungsi dari masing –masing obyek kunjungan semuanya hampir sama selain sebagai tempat pemujaan juga digunakan sebagai tempat rekreasi dan penelitian para arkeolog.

3. Tema atau makna (Budaya, Sosial, religius dll) dari masing –masing obyek kunjungan.

Dilihat dari tema religiusnya, masing-masing objek kunjungan memilik makna sebagai wujud persembahan kehadapan Tuhan dan sering digunakan untuk tempat bersemedi para Raja. Disamping itu dari segi budaya, masing-masing objek kunjungan dipergunakan sebagai tempat berziarah dan memohon berkah atas dasar keyakinannya dan sampai saat ini budaya tersebut masih diyakini. Kemudian dari sudut pandang social, masing-masing objek kunjungan merupakan salah satu tempat tujuan wisata dan sebagai tempat penelitian para arkeolog.

B. Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis dari penulisan laporan ini adalah agar umat Hindu mengenal lebih dalam mengenai perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah, sebagai titik awal perkembangan agama Hindu di Bali sehingga dapat menambah wawasan serta sebagai generasi muda Hindu diharapkan dapat melestarikan warisan budaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Administrator,2009.BimoLukartersediapada. Tersedia pada http://liburan.info/content/view/272/43/lang,indonesian/ (diakses pada hari Senin 27  juni 2011).

Agung, Kompleks Candi Dataran Tinggi Dieng. Tersedia pada http://www.jogjatrip.com/en/234/kompleks-candi-dataran-tinggi-dieng (diakses pada hari Rabu, 29 juni 2011).

Asal-usule Telaga Warna lan Kawah Sikidang. Tersedia pada http://sastra-jawa007.blogspot.com/2010/01/asal-usule-telaga-warna-lan-kawah.html (diakses pada hari Rabu, 9 juni 2010).

http://candi.pnri.go.id/jawa_tengah_yogyakarta/dieng/dieng.htmCandi Dieng.

http://candi.pnri.go.id/jawa_tengah_yogyakarta/dieng/dieng.htmhttp://id.shvoong.com/books/1873158-ketep-pass-vulkanologi/Ketep Pass-Vulkanologi.

http://candiprambanan555.blogspot.com/

http://kumpulan.info/wisata/tempat-wisata/53-tempat-wisata/182-candi-borobudur.html.

http://suwandi-sosialbudaya.blogspot.com/ Sejarah Candi.

http://www.diengplateau.com/2010/06/visit-komplek-candi-arjuna-gatutkaca.htmlVisit Komplek Candi Arjuna, Gatutkaca, Dwarawati, Bima.

 

Mas Fredy Heryanto, 2010. Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta :Warna mediasindo.

Moertjipto, Drs dan Drs Bambang Prasetio, 1993 . Borobudur Pawon dan Mendut. Yogyakarta: Kanisius.

K.P.H . Brongtodiningrat, 2010. Arti Keraton Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta.

R. soetarno, Drs, 2002. Aneka candi Kuno Di Indonesia. Semarang: Dahara Prize.

Soebroto, PH. 1973. Kompleks Candi Dieng. Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP. Yogyakarta.

Sonjaya, Jajang Agus. 2008. Pengelolaan Warisan Budaya: Belajar Dari Dieng. Yogyakarta.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s